<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Traveling with Family</title>
	<atom:link href="http://travelingwithfamily.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com</link>
	<description>"When you are everywhere, you are nowhere. When you are somewhere, you are everywhere." -Rumi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Aug 2007 22:37:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='travelingwithfamily.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Traveling with Family</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://travelingwithfamily.wordpress.com/osd.xml" title="Traveling with Family" />
	<atom:link rel='hub' href='http://travelingwithfamily.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nerja:Balcony of Europe, 27 Juli 2007</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/19/nerjabalcony-of-europe-27-juli-2007/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/19/nerjabalcony-of-europe-27-juli-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2007 02:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/19/nerjabalcony-of-europe-27-juli-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Spektakuler! Satu kata itu deh yang kuberikan untuk menggambarkan pemandangan yang tampak dari Balcony of Europe. Aku merasa betul-betul nggak rugi datang ke tempat ini, tempatnya betul-betul cantik, persis kaya foto-foto di websitenya. Kalau dibandingkan dengan pantai di pulau Bali, keduanya sama-sama cantik, masing-masing menawarkan keunikan tersendiri. Nggak heran kalau Balcony of Europe ini disebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=8&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Spektakuler! Satu kata itu deh yang kuberikan untuk menggambarkan pemandangan yang tampak dari Balcony of Europe. Aku merasa betul-betul nggak rugi datang ke tempat ini, tempatnya betul-betul cantik, persis kaya foto-foto di websitenya. Kalau dibandingkan dengan pantai di pulau Bali,  keduanya sama-sama cantik, masing-masing menawarkan keunikan tersendiri. Nggak heran kalau Balcony of Europe ini disebut sebagai &#8216;heart of Nerja&#8217;. Karena kecantikannya  semua turis pasti pada kesitu. Sebelum sampai ke Balcon, tempat memandang lepas ke pantai dan ke gunung Sierra Almijara, kami melewati boulevard palm dengan beberapa kereta kuda lagi parkir. Duh, romantis banget deh suasananya. Sayang disayang cuaca betul-betul hot, mungkin lebih dari 40 derajat C. Alhasil kami nggak kuat berlama-lama di atas balcon. Uniknya lagi di atas balcon terpasang meriam kuno (yang dulu katanya dipakai untuk melawan bajak laut dan invaders). Di dekat meriam itu juga ada patung lelaki tua entah patung siapa, raja jaman dulu mungkin atau pengawalkah? Setelah mencoba googling aku tetep nggak nemu identitas si patung.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/3/photos/37/500x500/50/balcon-europe.jpg?et=gYnRW19AgspMEEvWgk63eg" height="387" width="500" /></p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p>Dari atas Balcon ini kami juga bisa memandang pantai di sebelah kanan dan kirinya. Pantai ini dipenuhi oleh &#8216;pepesan&#8217; yang lagi berjemur. Penuuh banget si pantai sama orang yang berjemur. Perahu-perahu yang berjejer, payung-payung besar untuk berjemur, orang-orang yang sedang bermain di pantai dan karang-karang besar di tepi pantai membuat pemandangan di pantai &#8216;playa de calahonda&#8217; dan &#8216;playa el salon&#8217;  juga memesona. Konon, balcon yang seperti menggantung diatas tebing ini dibuat oleh suku Moorish di abad ke-9.</p>
<p>Dari arah Balcon setelah melewati &#8216;palm avenue&#8217; banyak toko-toko kecil yang menjual souvenir lucu-lucu, minyak zaitun dan buah-buahan. Nerja adalah salah satu penghasil minyak zaitun dan buah-buahan. Selain itu ada juga gereja El savador yang dibangun abad 17 dan taman capistrano playa, yang katanya menarik juga. Tapi kami tidak pergi kesana. Kami lebih memilih turun ke pantainya.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/12/photos/37/500x500/6/DSCF1249.jpg?et=9EP2ttAdwIjy3fsbqMVjlQ" height="375" width="500" /></p>
<p>Dan apa yang terjadi ketika aku turun ke pantai? Olala&#8230;hampir semua mata bule-bule yang setengah telanjang itu menatapku!&#8221;Gile cuaca hot begini ada cewe kerudungan, berkacamata hitam, berpayung dan berkaos kaki pulak turun ke pantai,&#8221; gitu kali ye pikir mereka. Duuh geer deh aku. Ya bukan geer lah, mereka bener-bener menatapku silih berganti loh. Apalagi waktu aku penasaran ingin main di daerah yang berkarang-karang. Wuah mereka pada kaget kali liat aku, kaya ngeliat hantu hehe. Akhirnya aku sadar diri deh, tempatku bukan disitu. Lagipula ayah juga gerah liat dada diumbar dimana-mana begitu. Sayang sih, padahal airnya jerniih banget dan anak-anak pasti suka kalau main dipantainya. Tapi selain penuh, cuaca yang panas banget membuat anak-anak juga ga minat main dipantai. Malik hanya senang menghitung kucing yang banyak beredar disana. &#8220;Ada 8 kucing Bun, Aik itung,&#8221; katanya. Sedangkan Lala cuma semangat mencari kerang.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/37/500x500/8/DSCF1258.jpg?et=fhtVbmeteVi7rFjFq5TtwA" height="375" width="500" /></p>
<p>Akhirnya kami pindah mencari tempat adem, persis di bawah balcon. Anak-anak senang main disana. Lala juga tambah girang setelah diberi kepercayaan untuk memegang kamera digital. Dia sibuk motret sana-sini. Aik yang nggak kebagian kamera awalnya rewel, tapi setelah itu, Aik sibuk cari batu dan melempar-lempar batu ke laut. Karena di dekat bebatuan banyak semut, Aik lalu bertanya,&#8221;Buat apa semut?&#8221; Pertanyaannya terus merembet, setiap yang ia lihat pasti ditanyakan,&#8221;Buat apa batu? Buat apa laba-laba? Buat apa kerang?&#8221; Tanya Aik. Dan aku serta suamiku pun harus ikut berpikir untuk menjawabnya.</p>
<p>Di bawah balcon ini kami bisa naik diatas batu-batu karang. Aku melihat sepasang manusia lagi snorkling. Tampaknya indah sekali melihat terumbu karang yang ada  di daerah pantai ini. Setelah puas berfoto, kami kembali naik ke atas balcon. Lala sempat berbalet ria di balcon itu. Karena aku masih penasaran dengan foto ala baju flamenco, kami berjalan mengitari jalan-jalan sempit di sekitar palm avenue. Orang-orang Spanish sungguh sulit berbahasa Inggris, kami hanya menggunakan bahasa tarzan. Kami malah ditunjukkan studio foto, tapi tak ada kostum flamenco disana. Wah! Ya sudah akhirnya kami mencari makan untuk mengganjal perut selama di bis nanti. Kami harus naik bis ke Granada pukul 19.15.</p>
<p>Jam masih menunjuk angka 18.00. Kami sudah tiba di dekat stasiun. Karena belum juga bertemu dengan resto penjual makanan, akhirnya kami leyeh-leyeh sejenak di taman dekat bus stasiun tersebut. Anak-anak girang sekali melihat air mancur. Cuaca sungguh panas, dan mereka pun butuh sesuatu yang mereka senangi. Mereka kubiarkan saja berbasah-basahan.Akhirnya mereka betul-betul basah. Mereka berlarian disekitar air mancur sambil membasahi daun-daun besar yang mereka ambil dari taman. Wajah mereka sungguh sumringah. Tawa nyaring pun kerap terdengar. Syukurlah kalau mereka bisa menikmati liburan ini.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/8/photos/37/500x500/42/DSCF1355.jpg?et=s9rygDseDYqYS7gSlIGPEg" height="375" width="500" /></p>
<p>Sementara ayah mencari makan, aku sibuk belajar jeprat-jepret di sekitar taman. Lagi-lagi aku melihat opa-opa sedang kongkow-kongkow di taman itu. Lalu setelah ayah datang, ayah menyuapi anak-anak makan. Rupanya, resto dengan menu seafood hanya bisa dijumpai di dekat pantai, padahal aku sudah ngiler ingin makan seafood. Ayah hanya berhasil menemukan penjual omelet telur dan ayam. Ya sudah, dalam keadaan lapar, semua nikmat deh. Dan berhubung aku ingin buang air kecil, maka aku lah yang kebagian tugas mengambil koper. Setelah koper kuambil, kami pun makan di taman dan mengganti baju anak-anak yang basah di taman.</p>
<p>Pukul 19.00 kami buru-buru menaiki bis ke arah Granada yang sudah menunggu. Anak-anak yang hanya bersandal jepit segera duduk di kursi masing-masing. &#8220;Apa yang paling aik suka di Balcony of europe tadi Ik?&#8221; Aik pun menjawab,&#8221; Aik paling suka pas lempar batu ke laut. Aik juga suka pas di air mancur nutupin air mancurnya pake daun terus basahin mbak lala,&#8221; katanya. Dan Lala?&#8221;Mbak lala paling suka di pantai karena pake kamera jadi fotografer.&#8221;</p>
<p>Hmm..Balcony of Europe yang indah. Sayang kami tak sempat menikmati pantaimu. Mungkin suatu hari nanti, jika Allah menghendaki, semoga kita bisa jumpa lagi ya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=8&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/19/nerjabalcony-of-europe-27-juli-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/3/photos/37/500x500/50/balcon-europe.jpg?et=gYnRW19AgspMEEvWgk63eg" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/12/photos/37/500x500/6/DSCF1249.jpg?et=9EP2ttAdwIjy3fsbqMVjlQ" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/37/500x500/8/DSCF1258.jpg?et=fhtVbmeteVi7rFjFq5TtwA" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/8/photos/37/500x500/42/DSCF1355.jpg?et=s9rygDseDYqYS7gSlIGPEg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nerja: Frigiliana dan Cueva de Nerja, 27 Juli 2007</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/nerja-27-juli-2007/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/nerja-27-juli-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 23:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/nerja-27-juli-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Baru jam 11 Malam kami sampai di hostal Abril Nerja, tempat kami menginap, tapi pukul 9.00 pagi, kami sudah harus check out. Kami memang hanya akan menghabiskan satu hari saja di Nerja. Jadi setelah check out, koper kami titipkan dalam hostal. Biasanya tiap hotel sudah punya ruangan khusus untuk menyimpan koper para tamu. Koper ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=7&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru jam 11 Malam kami sampai di hostal Abril Nerja, tempat kami menginap, tapi pukul 9.00 pagi, kami sudah harus check out. Kami memang hanya akan menghabiskan satu hari saja di Nerja. Jadi setelah check out, koper kami titipkan dalam hostal. Biasanya tiap hotel sudah punya ruangan khusus untuk menyimpan koper para tamu. Koper ini nanti akan kami ambil setelah kami puas keliling Nerja sebelum kemudian berangkat ke Granada. Untungnya hostal Abril ini hanya 100 m saja jaraknya dari halte bus, jadi kami tak terlalu repot menggeret koper-koper kami.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/15/photos/37/500x500/19/DSCF1323-edited.jpg?et=gt46xo1CXRaim%2CmU5Oc5Sw" height="375" width="500" /></p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Cuaca Nerja di pagi hari masih tak terlalu panas, mungkin sekitar 36 derajat C. Kota ini mungil, tak terlalu padat dan juga cantik. Ketika memandang jauh, kami bisa menyaksikan &#8216;white village&#8217; yang seperti menggantung di atas bukit-bukit sekitar Nerja. Nerja terletak di kaki gunung Sierra Almijara yang langsung bertemu lautan mediterania. Jadi tak heran kalau kota ini diburu turis karena tempatnya yang unik. Pemandangan gunung Sierra Almijara sekaligus laut ini bisa dinikmati dengan indah dari &#8216;Balcon de Europa&#8217;, jantungnya kota Nerja. Selain itu Cueva de Nerja, gua yang menyimpan sejarah jaman pre historic, dan frigiliana,&#8217;white village&#8217; khas spanish, membuat kunjungan ke kota ini semakin <em>worthy</em> rasanya. Bener-bener nggak rugi deh datang ke kota ini, sungguh menawan! Sayangnya kami ga bisa menikmati pantainya yang cantik berkarang-karang. Karena waktu sehari betul-betul kami padatkan untuk melihat 3 atraksi utama di Nerja: Frigiliana, Cueva de Nerja dan Balcon de Europa!</p>
<p><strong>Frigiliana</strong></p>
<p>Frigiliana terletak 5 km saja dari Nerja. Jam waktu itu sudah menunjuk hampir pukul 9.45 pagi. Menurut jadwal yang kubuat, bis ke Frigiliana ada pada jam segitu. Kami menunggu-nunggu bis itu di halte, tapi si bis tak kunjung kelihatan. Untungnya dalam time table-ku tertulis, bis ke Frigiliana itu berwarna krem dan hijau. &#8220;Itu dia bisnya!&#8221; Aik dan Lala menunjuk bis panjang berwarna krem dan putih di seberang halte. Hmm..syukurlah! Pas sekali! Kami pun buru-buru menyeberang jalan dan naik ke dalam bis itu. Ternyata setelah kami duduk, bis pun langsung berangkat. Ongkos naik bis ini 0,95 cent per orang. Sayangnya, anak-anak pun harus bayar, jadi lumayan menguras kocek juga nih.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/5/photos/36/500x500/14/DSCF1129.jpg?et=Pt7MhIJFt82PnP8HTKqJEQ" height="375" width="500" /></p>
<p>Frigiliana merupakan salah satu desa tercantik di Malaga. Banyak pensiunan orang Inggris yang ingin hidup damai menjalani masa tua disini. Desa ini terletak di kaki gunung Sierra Almijara. Jadi nggak heran kalau setelah berhenti di haltenya, kami langsung disuguhi jalan menanjak untuk mencapai pusat desanya. Katanya di puncak desa itu pemandangannya spektakuler. Di puncak desa itu juga ada gereja yang menarik dan di old quarter-nya ada 12 mosaik karya Pilar Garcia Millan.</p>
<p>Namun sayang disayang, karena udah keder duluan liat jalan  nanjak yang begitu menjulang, kami akhirnya malah ga sempet naik ke puncak desanya ihiks. Padahal disalah satu kios souvenirnya kita juga bisa foto pake baju flamenco. Duh nasib dah! Padahal foto-foto unik begitu kedemenan aku tuh. Awalnya setelah keluar bis, anak-anak liat speeltuin (taman bermain). Ya wis, berhamburanlah mereka kesana. Kami cukup lama juga main-main disana sambil melihat pemandangan yang cukup indah. Kami bahkan ditemani oleh opa-opa yang pada kongkow-kongkow di kursi <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Para opa yang demen kongkow-kongkow ini tampaknya khas juga di Andalucia. Sebab aku melihatnya nggak cuma sekali. Lucunya para opa ini pake &#8216;kostum&#8217; yang sama, kemeja pendek rapi dimasukkan ke celana panjang katun, dengan ikat pinggang melingkar tentu saja. Lalu, opa-opa itu juga pada pake topi bambu model koboy gitu, berikut nyangklong pipa rokok dan bawa tongkat, lucu banget deh liatnya. Kayak emak-emak yang lagi ngumpul ngerumpi aja hehe.</p>
<p>Naa setelah puas main di speeltuin, ayah malah ngajak turun, bukannya naik ke puncak desa. Berikut ayah kan baru belajar fotografi, belum profesional tea, jadi foto-fotonya lamaa banget untuk mendapatkan hasil yang oke. Duh aku ampe pegel begaya deh hehe. Untungnya anak-anak sih asik-asik aja. Lala senang karena misinya mencari bunga berhasil. Disana banyak kembang sepatu beraneka warna, ada pink, putih, oranye dan merah kalo nggak salah. Sedangkan Aik berhasil juga mendapatkan misinya yaitu si keranjang sampah tea <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Aik juga senang sekali main lempar-lemparan batu dari atas lereng ke bawah. Tentu saja Aik juga nggak lupa membawa batu van Frigiliana. &#8220;Aik mau koleksi Bun,&#8221; katanya beralasan.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/36/500x500/8/DSCF1114.jpg?et=B6IR%2BE5rcOWjRdhtOO5ZuQ" height="375" width="500" /></p>
<p>Setelah satu jam lebih, barulah kami mau beranjak naik ke puncak desa. Eeh tapi nggak taunya si bis sudah datang. Kami memang hanya punya waktu nggak sampe dua jam di desa ini, berhubung kami juga masih ingin menikmati atraksi lain di Nerja. Alhasil belum sampai ke puncak desa, hanya sempat beli souvenir beberapa, kami langsung balik ke bis untuk kembali ke Nerja. Ya begitulah, tak semua keinginan bisa tercapai. Tak semua rencana bisa berjalan mulus. Karena rencana manusia selalu tak sempurna. Dia lah Sang Maha pengatur yang rencanaNya tentu sempurna dan pasti ada maksudnya. Jadi enjoy saja!</p>
<p><strong>Cueva de Nerja</strong></p>
<p>Menjelang jam 12.00 siang, kami sudah tiba lagi di stasiun bus Nerja. Kami langsung mencari bis ke arah Cueva de Nerja. Gua yang didalamnya banyak terdapat stalagtit dan stalagmit ini terletak hanya 3 km saja dari Nerja. Jadwal bus ke cueva lebih banyak daripada ke Frigiliana. Hanya 15 menit naik bis dengan pemandangan white village dan lereng-lereng bukit dengan sedikit pepohonan, kami lalu tiba di cueva de Nerja.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/5/photos/36/500x500/16/P1010031.jpg?et=EQwWaVYN%2C8GDeuKghMUWGw" height="375" width="500" /></p>
<p>Untung lah perbekalan nasi dan gepuk masih ada, jadi kami bisa ngaso dulu. Selain menghemat biaya,  makan perbekalan sendiri juga mempersingkat waktu. Kalau di resto nunggu menu kelar lamaa bener. Halaman parkir cueva de nerja luas sekali. Cuaca Nerja yang suhunya sekira 40 derajat C, jadi agak adem dengan pepohonan rimbun di area itu. Selain lapangan parkir, restaurant,toko souvenir, WC dan juga tempat membeli foto ada di halaman luar gua Nerja.</p>
<p>Setelah perut terisi, kami langsung membeli karcis untuk masuk ke dalam gua. Ticket masuknya lumayan juga, 7 Euro per dewasa dan 3,5 euro untuk anak-anak. Berhubung di dalam gua naik turun tangganya banyak banget, jadi baby  buggy kami harus kami tinggal di luar. Tapi alhamdulillah, Lala dan Malik semangat sekali masuk gua. Dengan tas ransel di punggung masing-masing, mereka tak sabar masuk ke dalam.</p>
<p>&#8220;Wow!&#8221; Mata lala melebar dan mulutnya sedikit ternganga setelah masuk ke dalam gua yang remang-remang.  Tapi setelah bilang wow, dia juga mengkerut,&#8221;Ik ben bang..ik ben bang&#8230;(aku takut),&#8221; katanya berkali-kali ke Malik. Gua itu memang dikelola dengan sangat baik. Sang pengelola gua membuatkan jalan setapak khusus dengan pagar, sehingga pengunjung merasa nyaman. Selain itu pengunjung juga tak bisa merusak atau mencorat coret isi gua karena sudah diberi pembatas yang jelas begitu. Hmm jadi ingat gua-gua di Indonesia, mungkin sebenarnya gua ini agak mirip dengan gua di Baturaden. Tapi sayangnya gua di Baturaden tak terawat, stalagtit dan stalagmitnya pun tak sebanyak dan seindah dalam gua ini. Column di gua ini bahkan masuk guiness book of record karena lebarnya mencapai 32 m dan tingginya mencapai 1,7 m.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/9/photos/36/500x500/27/DSCF1182.jpg?et=7caPRcefAIMej7x8pbk%2CyA" height="375" width="500" /></p>
<p>Pemandangan pertama setelah masuk, kami melihat galian tanah, seperti galian jalan yang di dalamnya terdapat banyak peralatan menggali. Rupanya galian itu memang sebuah model, agar pengunjung tahu apa saja alat yang diperlukan untuk menggali. Lalu kami disuguhi beberapa display dalam kotak kaca seperti di museum. Anak-anakku semangat sekali mengintip-intip isi display. Disitu terdapat beberapa gambar manusia purba, jaman paleolitic. Mereka tampak sedang meletakkan jenasah temannya dalam gua. Lalu juga tampak gambar mereka sedang memanggang binatang hasil buruannya. Rupanya gua itu dulu dijadikan makam manusia, jadi banyak tengkorak juga disana. Selain itu, atraksi paling langka di gua ini adalah lukisan dinding orang-orang jaman paleolitic, yang paling jelas adalah lukisan gambar rusa dan gambar seperti angka delapan. Kami hanya bisa melihat gambarnya saja, karena area untuk melihat lukisan dinding dalam gua ini tertutup. Gua tempat lukisan itu berada hanya boleh dimasuki oleh para peneliti.</p>
<p>Perjalanan kami berlanjut. Aik selalu &#8216;lepas&#8217; ngeloyor jalan duluan di depan.  &#8220;Disini mau foto-foto atau liat gua?&#8221; Begitu protes Aik kalau ayahnya sibuk foto-foto dan tak juga beranjak dari satu tempat.  Kemudian setelah melalui sebuah tangga turun lagi, tiba-tiba ada orang berkata,&#8221;Smile!&#8221; Lalu sekilas cahaya menyorot wajah dan suara jepretan foto pun terdengar. Oalah rupanya tukang fotonya sembunyi disini. Kami tiba-tiba dijepret dan dikasih karcis masing-masing satu. Kalau berminat dengan hasil fotonya bisa kami ambil diluar.</p>
<p>Lalu perjalanan mengeksplorasi gua pun kami lanjutkan. Tampaknya Aik dan lala suka sekali dengan kejutan-kejutan  baru, makanya Aik ribut aja mau lanjut terus. &#8220;Ini Eng (menakutkan Bun) tapi asik,&#8221; kata Lala dan Malik sepakat. Kadang kami melihat stalagtit besar yang bentuknya seperti anggur. Aik juga bilang dia melihat stalagmit yang bentuknya seperti pistol besar. &#8220;Aik takutnya stalagmitnya jatuh ke Aik. Aik juga takut Aik jatuh ke bawah,&#8221; kata Aik.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/3/photos/36/500x500/37/DSCF1212-edited.jpg?et=dG2bBSHeHqJr0XGAvt9aMw" height="375" width="500" /></p>
<p>Dan yang paling spektakuler bagiku adalah ketika kami sampai pada sebuah square di dalam gua.  Bayangkan sebuah square dengan kursi penonton dan panggung pertunjukan di dalam gua! Ya karena luasnya, akhirnya square itu dijadikan panggung pertunjukan flamenco.  Tiap bulan Juli dan Agustus digelar pertunjukan flamenco dalam gua ini. Kursi merah tampak berjejer-jejer rapi menghadap panggung. Di atas panggung tampak beberapa orang sedang berlatih. Pasti mahal sekali menonton pertunjukan flamenco disini. Menonton flamenco dalam gua, dengan dekorasi stalagtit dan stalagmit betulan di sekitarnya, wah!</p>
<p>Setelah naik dan turun tangga  beberapa menit, akhirnya kami bertemu dengan &#8216;column&#8217; yang tercatat dalam guiness book of record. Subhanallah!  Karya yang Maha Agung memang begitulah. Column itu seperti batang pohon raksasa yang menjulang dari atas ke bawah, Kami sempat berfoto disana. Kami juga bertemu dengan keluarga bule dengan dua pasang anak, seperti lala dan Malik. Anaknya yang kecil, sekira 4 tahun diminta ayahnya memfoto ayah dan ibunya. Lucu juga, mungkin orangtua itu sekalian ingin mengajarkan anaknya cara memakai foto. &#8220;Do you want me to take a picture for all of you?&#8221; Aku menawarkan diri dan mereka tak menolak.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/36/500x500/29/DSCF1200.jpg?et=7Bg8OCqZHU2GBJVSXuELhQ" height="375" width="500" /></p>
<p>Hampir dua jam kami berada dalam gua. Seperti biasa perjalanan kami lelet karena ayah si  fotografer pemula masih coba-coba kamera melulu. Lalu aku juga harus sibuk cerita ke anak-anak tentang gua karena lala senang sekali diceritakan tentang gua ini.&#8221;Ada bagian dalam gua ini yang nggak boleh orang masuk La, karena masih ada <span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">scarab beetles and blind scorpions di sana.&#8221; Kalau aku berhenti bercerita, pasti Lala bilang,&#8221;cerita lagi Bun, cerita lagi Bun.&#8221; Waduh cerita apalagi ya, bacaan ku soal gua ini kan terbatas hehe.</span></p>
<p>Akhirnya, perjalanan kami mengeksplor gua selesai. Anak-anak tak tampak capek naik turun tangga, hebat! Mungkin karena pemandangan indah dalam gua yang memanja mata ya, jadi capeknya nggak terasa. Di luar panas udara terasa lagi, anak-anak minta main di speeltuin dulu. Waktu aku tanya apa yang paling Aik dan lala suka, Aik menjawab,&#8221; Aik paling seneng waktu teropong lukisan orang jaman purba yang gambar rusa.&#8221; Sedangkan Lala? &#8220;Mbak lala paling suka diceritain sama bunda tentang gambar-gambar orang jaman dulu di dinding gua. Mbak lala juga suka yang column 32 m itu, tapi mbak lala takut Bun. Terus mbak lala paling nggak suka kalo Aik minta buru-buru terus.&#8221;</p>
<p>Syukurlah, anak-anak cukup menikmati perjalanan ini, hampir nggak pernah rewel kecuali lapar, ngantuk dan capek.  Dag gua! Kami harus pergi, kami mau liat Balcon de Europa. Semoga Aik dan lala dapat tambahan ilmu setelah melihat guamu ini ya!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=7&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/nerja-27-juli-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/15/photos/37/500x500/19/DSCF1323-edited.jpg?et=gt46xo1CXRaim%2CmU5Oc5Sw" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/5/photos/36/500x500/14/DSCF1129.jpg?et=Pt7MhIJFt82PnP8HTKqJEQ" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/36/500x500/8/DSCF1114.jpg?et=B6IR%2BE5rcOWjRdhtOO5ZuQ" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/5/photos/36/500x500/16/P1010031.jpg?et=EQwWaVYN%2C8GDeuKghMUWGw" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/9/photos/36/500x500/27/DSCF1182.jpg?et=7caPRcefAIMej7x8pbk%2CyA" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/3/photos/36/500x500/37/DSCF1212-edited.jpg?et=dG2bBSHeHqJr0XGAvt9aMw" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/10/photos/36/500x500/29/DSCF1200.jpg?et=7Bg8OCqZHU2GBJVSXuELhQ" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Malaga yang Cantik</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/malaga-yang-cantik/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/malaga-yang-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2007 15:18:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/malaga-yang-cantik/</guid>
		<description><![CDATA[Wow! Ternyata Malaga kota yang cantik! Kota ini merupakan kota pelabuhan yang bersih dan terawat. Disana-sini banyak pohon palm yang membuat suasana jadi romantis. Aku tea si &#8216;palm lovers&#8217;, jadi betah bener memperhatikan kota ini. Pablo Picasso, sang pelukis terkenal lahir di kota ini. Di kota ini banyak terdapat museum, salah satunya museum Picasso tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=6&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wow! Ternyata Malaga kota yang cantik! Kota ini merupakan kota pelabuhan yang bersih dan terawat. Disana-sini banyak pohon palm yang membuat suasana jadi romantis. Aku tea si &#8216;palm lovers&#8217;, jadi betah bener memperhatikan kota ini. Pablo Picasso, sang pelukis terkenal lahir di kota ini. Di kota ini  banyak terdapat museum, salah satunya museum Picasso tentu saja.  Karena Malaga adalah kota di tepi laut, tapi juga dikelilingi gunung-gunung, maka cuaca di Malaga termasuk &#8216;the best weather&#8217; di Eropa.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/15/photos/35/500x500/5/DSCF1021.jpg?et=%2BKB1yew4u7TGBok8ucaNDw" height="375" width="500" /></p>
<p><span id="more-6"></span><br />
Setelah naik taksi keluar dari airport, taksi kami melewati jalanan lebar-lebar. Airport malaga terletak agak jauh dari pusat kota. Kami butuh waktu sekira dua puluh menit untuk sampai pusat kota. Dan menjelang sampai di pusat kota, jalanan macet! Tentu aja nggak semacet Jakarta, tapi lumayan membuat hawa yang panas jadi bertambah panas, berikut membuat mataku tak berhenti melirik argo taksi hehe. Deg-deg an juga takut harga taksi jadi melangit. Katanya sih taksi di Spain lebih murah daripada di Groningen. Ternyata memang betul, untuk jarak yang cukup jauh itu, kami &#8216;cuma&#8217; harus membayar 13 euro. Di Groningen, naik taksi dari rumah ke central stasiun aja harus bayar 10 euro. Tapi sayangnya kami tetap harus nambah lagi 5 euro untuk tax airport. Jadi ya sami mawon mahale. Tapi demi ngejar liat Malaga ya sudahlah. Dalam perjalanan kaya begini budget memang harus ditambah dengan biaya tak terduga sebesar 10-20 % dari biaya total.</p>
<p>Supir taksi menurunkan kami persis di depan Alcazaba. Sayang, walaupun belum gelap, tapi jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam. Jadi untuk naik ke benteng menikmati kota Malaga dari atas sudah tak mungkin. Padahal katanya dari atas benteng kita bisa menyaksikan indahnya pantai malaga sekaligus kotanya. Pintu masuk untuk naik ke atas dan museum archeologi yang ada disana sudah ditutup. Kami hanya bisa menikmati Roman teater dan benteng-benteng dari bawah saja. Pemandangan dari roman teater pun lumayan cantik. Kami bisa memandang pedestrian street yang lebar dan indah di bawahnya. Ingin rasanya jalan di pedestrian street itu ke centrumnya. Aku kan penggemar pedestrian street juga <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  (Duh apa sih yang nggak aku gemari hehe). Tapi ya begitulah waktu kami benar-benar mepet. Tapi aku sempet mampir di toko souvenir yang ada di seberang Alcazaba. Walaupun harganya mahal-mahal, tapi ya gimana lagi, ga ada pilihan lain euy.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/7/photos/35/500x500/8/DSCF1033.jpg?et=bPX0nr0JG8zPeu6vqyMtpg" height="375" width="500" /></p>
<p>Lucunya, waktu sedang asik foto-foto, seorang perempuan paruh baya dengan baju rapi (memakai rok, sepatu dan membawa tas), persis seperti ibu-ibu yang mau belanja, menghampiri suamiku. Dengan suara parau dan bisik-bisik dia ngomong pake bahasa spanish. Tentu aja suamiku nggak ngerti. &#8220;Udah Yah cuekin aja,&#8221; kataku. Tapi suamiku tea, si sabar (cie ngapung deh idung suami gw <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ). Didengarkannya baik-baik omongan si ibu sampe selesai. Ujung-ujungnya suamiku paham bahwa si ibu ternyata minta duit! Aje gile! nggak ada tampang blas. Memang sih perempuan itu bukan bule, rambutnya item pula, tapi dandananya cukup rapi, makanya kami tertipu. Akhirnya suamiku pun mengeluarkan sekeping euro. Beres deh. Selain itu aku juga liat ada pasangan muda ciuman huebooh banget sambil duduk di depan tulisan Alcazaba. Ya ampuun apa nggak bisa di rumah ya ciuman selama itu! Tapi &#8216;golden oportunity&#8217; deh, pelajaran berharga buat Aik dan Lala. Aku langsung bilang bahwa yang begitu ga usah diliat. Lala sih taat aturan banget, dia bener-bener ga mau liat hehe.</p>
<p>Balik ke cerita Alcazaba, bangunan ini dulunya merupakan benteng pertahanan militer yang dibuat oleh suku moorish pada abad ke-11 M. Sebelumnya di bawah benteng ini ada roman teater peninggalan sejarah Romawi. Rupanya dulu sekali, pada tahun 1000 SM, kaum phoenician lah yang menemukan kota Malaga. Lalu enam abad kemudian Romawi menguasai daerah ini. Sedangkan suku Moorish (yang memulai peradaban Islam di Eropa) datang pada abad ke-8 M. Malaga menjadi kota pertama yang dikuasai oleh kekhalifahan Cordoba pada masa itu. Saat itu Malaga disebut dengan &#8216;Malaqah&#8217; dalam bahasa Arab. Katanya lagi bangunan ini terinspirasi dari Alhambra. Jadi di dalamnya ada benteng, taman yang indah, air mancur dan peninggalan kaum muslim seperti di Alhambra.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/6/photos/35/500x500/3/DSCF1016.jpg?et=BrCyDHMu8DnrP%2BL94k1IqQ" height="375" width="500" /></p>
<p>Memang sayang, kami betul-betul tak punya waktu lagi di kota ini. Kami harus segera naik bus ke Nerja jam 21.30. Kalau tidak, kami akan terlalu malam sampai di Nerja. Sebetulnya saat membuat jadwal perjalanan, aku ingin menambah satu hari lagi di kota ini, tapi berhubung nggak dapat jadwal pesawat yang pas, ya nggak bisa deh. Jadi lagi-lagi kami memanggil taksi untuk membawa kami ke bus stasiun. Naik bus dari Malaga ke Nerja hanya butuh waktu 1,5 jam saja dengan biaya 3,9 euro per orang. Memang nggak terlalu mahal, sebab, jarak Malaga-Nerja hanya 50 km saja. Karena itu juga lah aku mau singgah di Nerja.</p>
<p>Herannya, saat menunggu bus Malaga-Nerja, aku ketemu lagi sama pasangan laki-perempuan yang lagi ciuman. Kali ini ciumannya super duper hueboh! Perempuannya gemuk banget, laki-lakinya agak gemuk tapi ga seberapa.  Sejak kami dateng jam 9.00 malam sampai menjelang berangkat jam 9.30 pasangan itu ciuman ga berenti! Gilaak! Kenapa siy ga dirumah aja, kan kalo horni bisa langsung dilanjut hehe. Sebel juga ngeliatnya, soalnya anak-anakku kan seliweran disitu. Kami sempet beli makan juga di cafe stasiun, jadi ngelewatin pasangan itu. Duuh kebangetan deh, perasaan di Groningen ga gini-gini amat. Menjelang bus datang, baru mereka pergi, huh mbok ya dari tadi hehe. Akhirnya bus kami pun datang.</p>
<p>Ketika bus yang membawa kami ke Nerja melewati daerah pantai Malaga, aku agak-agak menyesal.&#8221;Wuih kereen banget pantainya! Tau gitu kita ke pantai aja ya Yah, ga usah ke Alcazaba,&#8221; kataku pada suamiku. Ya, saat itu kami melewati pantai Malaga yang dipenuhi boulevard palm di sebelah kanan yang sungguh aduhai pemandanganya. Sedangkan disebelah kiri pemandangannya sangat kontras. Bangunan-bangunan di atas bukit termasuk Alcazaba memanja mata kami. Sungguh pemandangan yang tak biasa! Pantai dan bukit jadi satu! &#8220;Wah harus balik lagi ni Yah lain kali hehe.&#8221; Suamiku hanya tersenyum mengamini saja. Kami betul-betul terpesona dengan pemandangan singkat itu. Duh mampir di Malaga ini rasanya memang seperti makan makanan enak yang nyangkut di tenggorokan. Kami sungguh belum puas. Hingga akhirnya Malaga pun tak tampak lagi di mata kami. Ah Malaga, ternyata kamu cantik! <em>Hopefully someday we meet again</em> yaa&#8230;! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=6&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/16/malaga-yang-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/15/photos/35/500x500/5/DSCF1021.jpg?et=%2BKB1yew4u7TGBok8ucaNDw" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/7/photos/35/500x500/8/DSCF1033.jpg?et=bPX0nr0JG8zPeu6vqyMtpg" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/6/photos/35/500x500/3/DSCF1016.jpg?et=BrCyDHMu8DnrP%2BL94k1IqQ" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Groningen to Malaga (26 Juli 2007)</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/08/groningen-to-malaga-26-juli-2007/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/08/groningen-to-malaga-26-juli-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Aug 2007 16:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/08/groningen-to-malaga-26-juli-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Persiapan Liburan summer ke Spain kali ini sungguh berbeda. Kami seperti diperlihatkan dua kutub yang berlawanan. Kami melakukan perjalanan dengan rute: Groningen-Bremen-Malaga-Nerja-Granada-Cordoba-Madrid-Barcelona. Andalucia (Nerja, Malaga, Granada dan Cordoba) sungguh cantik. Di Cordoba dan Granada kami seperti melakukan sebuah pilgrimage yang mengharukan. Sementara Madrid dan barcelona seperti menawarkan kesenangan dunia yang entah berujung kemana. Berhubung perjalanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=4&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Persiapan</h2>
<p>Liburan summer ke Spain kali ini sungguh berbeda. Kami seperti diperlihatkan dua kutub yang berlawanan. Kami melakukan perjalanan dengan rute: Groningen-Bremen-Malaga-Nerja-Granada-Cordoba-Madrid-Barcelona. Andalucia (Nerja, Malaga, Granada dan Cordoba) sungguh cantik. Di Cordoba dan Granada kami seperti melakukan sebuah pilgrimage yang mengharukan. Sementara Madrid dan barcelona seperti menawarkan kesenangan dunia yang entah berujung kemana.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/11/photos/40/500x500/12/DSCF1738.jpg?et=DVuh9kwmIny%2BD%2C%2CaBHaEkg" height="300" width="400" /></p>
<p><span id="more-4"></span><br />
Berhubung perjalanan kami bisa dibilang model &#8216;backpakker family&#8217;, jadi aku berusaha mempersiapkannya dengan baik. Sebab jalan-jalan dengan anak-anak sungguh berbeda dengan jalan dengan orang dewasa. Apalagi kami tea narsis hehe, jadi pasti jalannya lemot banget, sedangkan waktu kami terbatas. Belum lagi, kami juga ga pengen cuma sekedar liat tempat dan foto. Paling engga di tempat yang bersejarah, kami pengen merasakan sejarah hadir bersama kami ketika kami berada di tempat itu. Kami juga pengen anak-anak bisa belajar sesuatu dari perjalanan ini. Duile belagu amat yak hehe, tapi ya begitulah, setiap orang pasti punya tujuan berbeda dalam melakukan perjalanan bukan?</p>
<p>Jadi supaya dalam waktu singkat kami bisa tetap mengunjungi banyak tempat, banyak manfaat dan anak-anak juga enjoy, hampir dua mingguan aku &#8216;research&#8217; kecil-kecilan soal Spain.Dari &#8216;research&#8217; itu, aku mencari hotel yang murmer, ticket pesawat ryan air yang paling murah (karena harga ryan air bisa mulai dari 1 euro bo!), cari bus serta jadwalnya dari satu kota ke kota lain di Spain dan juga tempat-tempat yang berguna buat dikunjungi. Setelah itu aku bikin time table dan itenerary selama 10 hari perjalanan. Alhamdulillah perjalanan kali ini ga meleset jauh-jauh amat dari rencana yang sudah kami buat. Kesulitan dan hal-hal tak terduga disana sini tentu biasa.</p>
<p>Selama beberapa kali melakukan perjalanan, Allah pasti kasih kami bukan hanya yang senang-senang saja, tapi juga yang bete-betenya. Keseimbangan, sunatullah, hukum alam, begitu kata orang. Its oke bersenang-senang. Its oke mencari dunia seolah hidup kita masih akan seribu tahun lagi. Tapi jangan pernah lupakan Dia, seolah kita akan mati esok hari. Begitu kan kata teori. Kenyataannya? Wallahualam bissawab hehe. Sulit memang. Tapi keseimbangan-keseimbangan itulah biasanya yang mengingatkan kami untuk selalu kembali kepadaNya. Ia seperti ibu yang menjewer telinga kami, mengingatkan kami untuk kembali ke rel kalau kami kelewatan. Karena itu, kalau keseimbangan datang, syukuri ia, begitu selalu suamiku bilang.</p>
<h2>From Groningen to Malaga</h2>
<p>Kami berangkat dari CS groningen jam 9.45 ke Bremen naik bus-publicexpress (http://www.publicexpress.de/nl/). Hanya 2,5 jam saja kami sudah sampai di Bremen. Barang bawaan kami cukup komplit: 2 koper ukuran sedang, 2 baby buggy, 2 buah tas ransel dewasa dan 2 buah tas ransel anak-anak. Berhubung di Spain banyak seafood, jadi kali ini aku cuma bawa bekal nasi goreng untuk dua kali makan dan bawa gepuk beberapa puluh potong. Kami ga lupa dong bawa beras dan rice cooker. Sayangnya kami lupa bawa indomie ihiks, padahal indomie tuh makanan ternikmat sedunia kalo lagi di negeri orang kelaperan.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/11/photos/34/400x400/1/DSCF0922.jpg?et=mLKLF1OdAasYcMqNrckfYw" height="300" width="400" /></p>
<p>Sayangnya lagi, anak-anakku ndeso hehe, gara-gara ga pernah naik mobil, (naeknya sepeda melulu), jadi pas naek bis ke Bremen, anak-anak pada muntah ihiks. Baru setengah jam perjalanan Malik udah rewel dan ngeluh pusing, Lala juga. Satu jam kemudian, Malik muntah, ga lama Lala menyusul. Untung aku dah siap bawa plastik bungkus roti sebundel, dan memang ternyata plastik itu berguna banget. Bukan cuma buat nampung muntah di jalan, tapi juga buat nampung pipis malik kalo lagi kebelet di jalan dan susah cari wc hehe. Plastik itu juga berguna buat nampung batu-batuan. Yup, malik hobi banget ngumpulin batu yang dia temuin di jalan. Jadi plastik dan tissue basah, merupakan barang andalan kalau lagi jalan-jalan sama anak-anak begini.</p>
<p>Setelah muntah, anak-anak kembali ceria dan tidur lelap sampe Bremen. Tapi komentar lala dan malik langsung berbunyi gini,&#8221;Aku paling ga suka naik bus!&#8221; Hmm&#8230;</p>
<p>Jam 12.30 kami sampai di Airport Bremen, suasana masih lengang, petugasnya juga belum ada. Jam 13.30, petugas dan penumpang mulai bermunculan, ternyata penumpang rame buanget! Semua orang seperti keluar dari rumah untuk berlibur. Saat check ini, &#8216;Mr.problem&#8217; mulai muncul. Ternyata barang-barang yang masuk bagasi ga boleh lebih dari 15 kg! OMG! Suamiku lupa kalo Ryan air memang memberlakukan kebijakan segitu, ga sama kaya pesawat lain, namanya juga pesawat murah. Wuah terpaksa deh kami mundur dan bongkar-bongkar. Tas anak-anak yang kecil-kecil pun diberdayakan.</p>
<p>Isi dua tas ransel terpaksa kami pindah ke tas anak-anak yang isinya buku jurnal dan mainan mereka. Tas mereka jadi full banget. Isi tas koper sebagian kami pindah ke tas ransel. Alhamdulillah..beres! Tas koper yang beratnya 21,6 kg berhasil jadi 15 kg. Kami pun akhirnya bisa melenggang masuk ruang tunggu pesawat.</p>
<p>Waktu barang-barang kami diperiksa oleh petugas, lala denger bahwa penumpang ga boleh bawa cairan ke dalam kabin pesawat. Lala lalu tanya terus,&#8221;Kenapa ga boleh bawa air?&#8221;. Ayahnya menjawab,&#8221;Karena dulu di London pernah ada orang bikin bom pake cairan La.&#8221; Pertanyaan selanjutnya bisa ditebak,&#8221;Gimana bikinnya?&#8221; Dan ayahnya pun lalu berusaha menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari lala.</p>
<p>Di ruang tunggu, antrian orang yang mau pergi ke Malaga seperti antrian orang ngambil jatah beras hehe penuh banget. Jam 14.55 kami boarding. Kami bisa lewat jalur priority untuk anak-anak dan orangtua, jadi ga perlu antri. Tapi herannya, pas pulang dari Barcelona-Breman, priority ini hanya berlaku untuk yang sudah melakukan reservasi. Padahal kami sudah antri panjang, huh! Tapi pengalaman berharga nih, jadi laen kali, biar aman mendingan reservasi dulu deh. Karena katanya peraturan berubah sejak satu tahun lalu.</p>
<p>Jam 15.25 pesawat dengan tujuan Bremen-Malaga itu berangkat. Aku duduk sama Lala. Lala sempet ketakutan di awal, apalagi pas liat gambar emergency landing. emergy oxygen dan life vest di depan tempat duduk. &#8220;Ayah ga boleh pake kacamata Bun,&#8221; katanya waktu liat gambar kacamata di coret. Setelah aku jelaskan bahwa ini kasus khusus dan aku minta dia berdoa ke Allah baru dia tenang.</p>
<p>Setelah ketakutannya hilang, saat mau take off dan landing lala malah jejeritan. &#8220;Aaagh..dit is leuk Malik (Ini asyik malik)! Ini kaya naik Achban (roller coster) Bun!&#8221; katanya senang.</p>
<p>Jam 18.40 kami tiba di Malaga airport. &#8220;Kenapa kalo sukses landing orang-orang tepuk tangan Bun?&#8221; tanya lala lagi. Orang-orang memang pada tepuk tangan saat landing berhasil tadi. &#8220;Berarti pilotnya pinter la, dan alhamdulillah berarti semua penumpang selamat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu mobil &#8216;Follow me&#8217;! Misi Aik berhasil!&#8221; kata Aik senang. Anak-anak memang aku suruh bikin misi di tiap tempat yang aku kunjungi, supaya mereka ga bosen. Tapi Aik juga rewel karena telinganya mampet. &#8220;Kenapa telinga Aik ga enak?&#8221; tanyanya berkali-kali.</p>
<p><img src="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/12/photos/34/400x400/12/DSCF0988.jpg?et=ySuk5c0j%2C5RLe%2BiN8QJ8XQ" height="300" width="400" /></p>
<p>Kami baru selesai mengambil barang jam 18.30. Wuih Malaga betul-betul hot! Di ramalan cuaca kami liat Malaga hari ini 40 derjat C dan tampaknya memang begitu adanya. Aku berusaha mengisi botol aqua di air keran WC, tapi ya ampuun airnya ga enak banget! Aku batal minum deh, daripada sakit perut.Jangan-jangan air kran di Spain ga bisa diminum.</p>
<p>Keluar dari pintu airport, sesuai timetable yang sudah kubuat, kami mesti belok ke kanan dan menunggu bis no 19 ke Malaga. Katanya bayarnya hanya 0,95 cent euro/orang. Bis itu lewat tiap setengah jam. Sedangkan jam saat itu menunjukkan pukul 19.30 lewat. &#8220;Ya udah lewat kali bisnya! Yo wis naik taksi aja deh, ga akan ngejar kalo ga naek taksi,&#8221; kata suamiku. Kami cuma punya waktu sampai jam 21.30 di Malaga, sebelum naik bus ke Nerja. Malaga-Nerja memang hanya 1,5 jam perjalanan. Karena Nerja tampaknya di website sungguh cantik, maka aku pilih menjelajahi Nerja daripada Malaga.</p>
<p>&#8220;Taksii! antar kami ke Alcazaba Malaga ya!&#8221; Tapi sayangnya si supir asli ga bisa bahasa Inggris. Pake bahasa tarzan ga ngerti juga. Akhirnya kudu nunjukin gambar Alcazaba yang ada di buku jurnal lala. Baru deh si supir ngertei. Phfuih..akhirnya&#8230;Spain..here we are!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=4&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2007/08/08/groningen-to-malaga-26-juli-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/11/photos/40/500x500/12/DSCF1738.jpg?et=DVuh9kwmIny%2BD%2C%2CaBHaEkg" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/11/photos/34/400x400/1/DSCF0922.jpg?et=mLKLF1OdAasYcMqNrckfYw" medium="image" />

		<media:content url="http://images.bundaagnes.multiply.com/image/12/photos/34/400x400/12/DSCF0988.jpg?et=ySuk5c0j%2C5RLe%2BiN8QJ8XQ" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jerman:Hannover,World of light and color &#8211; Herrenhauser Garten, 14 April 2006</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2006/04/14/jermanhannoverworld-of-light-and-color-herrenhauser-garten-14-april-2006/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2006/04/14/jermanhannoverworld-of-light-and-color-herrenhauser-garten-14-april-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2006 12:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jerman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2006/04/14/jermanhannoverworld-of-light-and-color-herrenhauser-garten-14-april-2006/</guid>
		<description><![CDATA[Hannoverian Elector and King melukiskan keindahan taman Perancis dan Inggris gaya baroque (abad 17-an) ke atas permadani 135 hektar Herrenhausen Garten. Jadilah empat taman dan botanical garden yang luas yaitu Grosser Garten, Georgengarten, Berggarten, dan Welfengarten. Grosser Garten Jika kita melihat dari angkasa, benar-benar kita seperti memandang permadani dengan motif yang indah membentang di taman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=13&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="entry"><em>Hannoverian Elector and King</em> melukiskan keindahan taman  Perancis dan Inggris gaya <em>baroque</em> (abad 17-an) ke atas permadani 135 hektar <em>Herrenhausen Garten</em>. Jadilah empat taman dan botanical garden yang luas yaitu <em>Grosser Garten, Georgengarten, Berggarten</em>, dan <em>Welfengarten</em>.</p>
<table align="right" cellpadding="2">
<tr>
<td><img src="http://www.ismailfahmi.org/files/family/herrenhausen.jpg" width="180" /><br />
Grosser Garten</td>
</tr>
</table>
<p>Jika kita melihat dari angkasa, benar-benar kita seperti memandang permadani dengan motif yang indah membentang di taman itu. Dasar hijau dengan corak warna putih, kuning, merah, mengingatkanku pada ukiran kursi di ruang kepresidenan. Namun sayang saat itu hanya warna coklat dan pohon-pohon tanpa daun yang tertoreh.</p>
<p><span id="more-13"></span>Pucuk-pucuk muda masih malu-malu menampakkan dirinya di antara batang dan ranting. Mereka baru bersemi.Aku tidak ingin menghabiskan tiga puluh menit yang tersisa untuk menikmati taman itu. Pilihanku jatuh pada sebuah bangunan mirip kapal di sebelah kanan pintu masuk yang disebut <em>Grotto</em>. Ketika aku mengintip ke dalam melalui jendela, kulihat dinding yang penuh dengan kaca bermotif dan ornamen warna-warni. “Walaa&#8230; inikah salah satu karya <strong>Niki de Saint Phalle</strong>?” teriakku dalam hati. Aku baca di Lonely Planet &#8216;Germany&#8217;, salah satu kebanggaan Hannoverian adalah karya arsitek ornamen asal Perancis itu. Kejeniusannya mewarnai dinding dengan kaca ornamen sungguh khas. Jutaan pengunjung disedot ke dalam dunia dinding ornamen penuh warna yang luar biasa. Kalau anda pernah ke Wina, mungkin anda berpikiran sama dengan aku, karya ini mengingatkanku pada karya <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Friedensreich_Hundertwasser" target="_blank">Hundertwasser</a></strong>.</p>
<p>Lala dan Malik bolak-balik dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Di bagian kiri dia melihat tanpa berkedip patung abstrak wanita khas Niki de Saint, berselimutkan kaca ornamen warna-warni. Ada ular, laba-laba, dan binatang-binatang lucu lainnya bergelantungan di dinding.</p>
<p>“Bunda, Aik mau nggambar,” kata Aik.</p>
<p>Setelah menerima buku notes kecil dan pena biru, dia berdiri di depan patung itu dan mulai menggambar. Pengunjung lalu lalang di sekitarnya tak mampu mengganggu keasyikan dan konsentrasinya. Rupanya dia telah menjadi tontonan tersendiri. Seorang nenek yang ingin tahu apa yang dikerjakan Aik pelan-pelan mendekat dari belakang. Tubuhnya membungkuk dan kepalanya maju ke depan mencuri pandang. Kemudian dia tersenyum dan berbicara kepada kami dengan bahasa planet.</p>
<p>Lala sendiri lebih senang dengan ruangan di sebelah kanan. Ada patung Nanas lain berbentuk gajah. Dia suka karena ada banyak air yang mancur dari badan si gajah.</p>
<table align="right" cellpadding="2">
<tr>
<td><img src="http://www.ismailfahmi.org/files/family/nanas-grotto-gajah.jpg" width="180" /><br />
Nanas Gajah di Grotto</td>
</tr>
</table>
<p>Ketika aku menjelaskan kepada anak-anak, hampir-hampir tanganku menyentuh kaca ornamen. Seorang wanita dengan seragam biru mendekati kami dan segera melarang. Aku minta maaf dan melanjutkan cerita tentang karya Niki de Saint ini. Biasanya anak-anak mendapat imajinasi baru dari hal-hal yang dilihatnya. Penjelasan tentang detail kaca ornament itu, bagaimana membuatnya, bagaimana bisa menjadi indah akan sangat bagus buat imajinasi Lala dan Malik.“<em>Are you from Malaysia?</em>” tanya pentugas itu setelah aku selesai bercerita.</p>
<p>“<em>No, we are from Indonesia,</em>” jawabku.</p>
<p>Aku manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya lebih detail tentang karya satu-satunya wanita yang mendapatkan penghargaan Freedom of the City of Hannover. Apakah benar ini karya Niki de Saint yang terkenal itu? Sebuah pertanyaan pembuka untuk memenuhi keingintahuanku. Petugas kelahiran Hannover itu kemudian menjelaskan panjang lebar.</p>
<p>Niki de Saint Phalle mulai mendesain ornamen interior Grotto di Grosser Garten pada 1999. Dia sendiri juga yang memilih material seperti kaca dan batu-batuan untuk ditempel di dinding. Namun dia meninggal satu tahun sebelum karya ini selesai. Pada 2002 interior Grotto selesai dibangun. Melalui visi yang terbaca dari catatan dalam buku desainnya, para asisten Niki mempu melengkapi kekurangan.</p>
<p>Karya Niki lain yang sangat terkenal adalah <em>Nanas</em> di tepian sungai Leine. Dibangun pada 1974 karya kontroversial ini menerima banyak protes dari masyarakat Hannover. Karya seni yang aneh di ruang publik saat itu belum bisa diterima luas. Namun akhirnya Nanas menjadi maskot Hannover sebagai Kota Ekspo.</p>
<table align="right" cellpadding="2">
<tr>
<td><img src="http://www.ismailfahmi.org/files/family/nanas-niki.JPG" width="180" /><br />
Nanas di tepi sungai Leine</td>
</tr>
</table>
<p>“<em>You have to go there to see another work of Niki,</em>” kata petugas itu.Sayang sekali, aku harus melanjutkan perjalanan ke Berlin. Jika aku sendirian, tentu akan aku kejar. Mengunjungi sebuah kota dan baru melihat bagunan yang terhampar ibarat melihat jeruk yang masih diselimuti kulit. Untuk merasakan manisnya jeruk, kulit itu harus dikupas. Kadang tidak mudah, karena kulitnya sangat lengket dan keras. Namun, perjuangan itu akan membuahkan hasil yang nikmat. Mengunjungi museum, mendengarkan cerita masa lalu, atau membaca buku tentang bangunan kebaggaan masyarakat Hannover adalah cara untuk menikmati perjalanan ini.</p>
<p>“Saya dulu pernah tinggal di Malaysia,” kata petugas itu. Ternyata dia bisa bahasa Malaysia. “Mulai tahun 1992 saya tinggal di Kuala Lumpur dua tahun kemudian di Borneo dua tahun. Saya menjadi pemandu turis untuk orang-orang Jerman,” lanjutnya.</p>
<p>“Lalu mengapa anda ke Hannover?” tanya saya dalam bahasa Inggris karena dia hanya sedikit bisa bahasa Malaysia.</p>
<p>“Tahun 1996 ibu saya sakit. Saya harus mengumpulkan uang tabungan untuk bisa beli tiket ke Jerman. Saya tidak mendapat banyak dari bekerja di Malaysia. Sampai di sini, saya tidak punya uang lagi untuk kembali ke sana. Akhirnya saya putuskan untuk bekerja di Hannover.”</p>
<p>“Apakah anda pernah ke Indonesia?”</p>
<p>“Itu lah lucunya. Saya empat tahun di Malaysia, tetapi belum pernah ke Indonesia. Suatu kali saya ingin ke sana. Manusia berubah, apalagi kalau sudah mulai tua seperti saya. Banyak pertimbangan dalam hidup ini yang mengarah pada perubahan. Sekarang saya di Hannover, mungkin suatu saat saya memilih tinggal di negara lain. Di Eropa Timur mungkin lebih enak. Biaya hidup lebih murah, tetapi lebih dekat dengan negara lain di Eropa. Saya juga suka Kanada, mungkin saya akan tinggal di sana kalau tua nanti.”</p>
<p>“Betul, Vancouver itu indah sekali,” kata saya teringat delapan tahun yang lalu mengunjungi kota itu seminggu. “Jika anda memilih tinggal di Asia, anda memilih negara mana?” tanyaku.</p>
<p>“Malaysia,” jawabnya. Kemudia dia menyanyikan sebuah syair lagu, “Malaysia.. my Malaysia..”</p>
<p>“Anda suka Malaysia ya?”</p>
<p>“Ada Malaysia dalam hati saya. Saya juga punya boy friend di sana. Namun teman hidup dan juga pendapatan menjadi pertimbangan untuk menentukan pilihan.”</p>
<p>“Semoga anda mendapatkan hidup yang bahagia di hari tua.”</p>
<p>Selalu ada yang menarik ketika bertemu dan berdialong dengan seseorang di tempat yang aku kunjungi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=13&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2006/04/14/jermanhannoverworld-of-light-and-color-herrenhauser-garten-14-april-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.ismailfahmi.org/files/family/herrenhausen.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.ismailfahmi.org/files/family/nanas-grotto-gajah.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.ismailfahmi.org/files/family/nanas-niki.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Belanda: Alkmaar, 5 Juni 2005, catatan parenting, &#8216;Berproses Seperti Keju&#8217;</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-catatan-parenting-berproses-seperti-keju/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-catatan-parenting-berproses-seperti-keju/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2005 22:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-catatan-parenting-berproses-seperti-keju/</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa keju utuh berbentuk bulat? Mengapa pula keju sering tampak berlubang-lubang? Bagaimana sih cara membuat keju? Betapa sering aku melihat dan memakan keju. Tapi apakah pertanyaan-pertanyaan di atas pernah terlintas di kepalaku? Aku kan tinggal di negeri keju, mestinya tahu dong. Ah, sayangnya tidak. Mana sempat aku memikirkan proses panjang makanan yang masuk ke mulutku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=17&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><!--[endif]--></strong></p>
<p class="MsoBodyText">Mengapa keju utuh berbentuk bulat? Mengapa pula keju sering tampak berlubang-lubang? Bagaimana <em>sih</em> cara membuat keju? Betapa sering aku melihat dan memakan keju. Tapi apakah pertanyaan-pertanyaan di atas pernah terlintas di kepalaku? Aku kan tinggal di negeri keju, mestinya tahu <em>dong</em>. Ah, sayangnya tidak. Mana sempat aku memikirkan proses panjang makanan yang masuk ke mulutku. Saat makan bersama anak-anak<span>  </span>yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya agar anak-anak bisa cepat selesai makan dan aku bisa segera beristirahat. Duh sayang, padahal mengetahui asal usul makanan mungkin bisa membuka mata hati anak-anakku tentang pentingnya sebuah proses dalam menjalani hidup ini. Untungnya, di kota Alkmaar ada museum keju. Museum memang tak semenarik mall, tapi taburan ilmu tersimpan disana. Karena itu lah aku, suami dan anak-anakku pergi mengunjunginya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <span id="more-17"></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Museum keju terletak di pusat kota Alkmaar. Tepatnya ia berada di depan lapangan tempat atraksi pasar keju biasa digelar. Di lantai pertama terdapat toko souvenir yang sekaligus dijadikan kantor pusat informasi turis. Untuk masuk ke museum keju, kami harus naik ke lantai dua. Kami membayar ticket seharga 2,5 Euro untuk dewasa dan 1,5 Euro untuk anak-anak diatas 6 tahun. Dengan biaya sebesar itu kami mendapatkan sebuah brosur dan sebuah souvenir. Souvenir ini bisa dimakan lho. Ya namanya juga museum keju, apalagi souvenirnya kalau bukan sepotong keju.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pemandangan pertama yang kami lihat di museum adalah seperangkat alat pembuat keju di masa lalu. Sebuah gentong besar untuk menampung susu teronggok di sebuah sudut. Gentong itu serupa bak mandi besar berbentuk bulat dan terbuat dari kayu. Di sebelah si gentong terdapat TV yang mempunyai banyak tombol. Dengan memencet salah satu tombolnya aku bisa memilih mau menonton TV dengan bahasa<span>  </span>Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Portugis atau bahasa Cina. Aik bolak-balik memencet tombol-tombol itu. Baru saja kami melihat proses pembuatan keju di masa lalu dengan berbahasa Inggris, Malik sudah menggantinya dengan bahasa Belanda. Tak lama ia menggantinya lagi dengan bahasa Cina. Tombol-tombol yang bisa berubah bahasa itu lebih menarik baginya daripada informasi yang ada dalam TV.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Akhirnya Malik mau juga menonton dengan bahasa Inggris, asalkan ayahnya mau menterjemahkan. Film dokumenter itu masih hitam putih. Suamiku pun menjelaskan pada anak-anakku tentang proses pembuatan keju jaman dulu persis seperti cerita yang ada dalam TV. “Dulu, susu-susu sapi itu diangkut pake perahu Ik. Lalu kaleng-kaleng besar susu itu dibawa ke rumah atau pabrik kejunya. Nah susu sapi itu dimasukkin ke dalam bak besar yang kayak bak kayu di sebelah ini. Tapi sebelumnya susu itu dipanaskan dulu supaya kuman-kumannya pada mati. Terus sama orang yang bikin dikasih <em>renet </em>sama <em>lactic acid </em>(asam laktat). Habis itu baknya ditutup, ditinggal makan bersama tuh lihat. Selesai makan, kira-kira 30 menit, apa yang terjadi ya? Oh…lihat susunya menggumpal ya. Setelah itu diaduk-aduk, disaring, dimasukkan ke alat penekan, terus dibiarin, dan jadilah keju.” Begitu penjelasan sederhana dari suamiku kepada anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Puas menonton tayangan cara membuat keju, kami berjalan lagi. “Hei lihat ini lho yang namanya <em>renet</em>.” Aku mengangkat Aik dan Lala agar mereka bisa melihat <em>renet</em> yang<span>  </span>terletak tinggi di dalam lemari kaca. “<em>Renet</em> itu asalnya dari lambung anak sapi La. Itu lho yang tadi ditetesin ke susu, biar susunya menggumpal. Itu contoh lambung sapi yang sudah diawetkan tuh, kelihatan kan. Nah yang ini asam laktat nih, tadi juga ditetesin ke susu biar keju lebih tahan lama dan punya rasa yang enak.” Tanganku menunjuk-nunjuk benda-benda yang kumaksud.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Setelah didiamkan, sebetulnya susu yang telah menggumpal tadi terus diaduk-aduk memakai pengaduk seperti garpu besar berjari banyak. Hasilnya akan terbentuk<span>  </span>‘<em>curd</em>’, butiran putih kecil, dan ‘<em>whey</em>’ yaitu cairan sisa yang hanya berfungsi seperti taksi— sebagai pengantar. <em>Curd</em> akan disaring dan diletakkan dalam kain putih. Sekilas <em>curd</em> yang telah disaring ini mirip ampas tahu. <em>Curd</em><span>  </span>dalam kain putih lalu dimasukkan<span>  </span>ke dalam alat penekan berbentuk buah kelapa yang telah dipangkas bagian atasnya. Kemudian alat penekan bekerja dan memeras <em>curd</em> sehingga akan terbentuk keju yang keras.<span>  </span>Semakin lama proses pematangan keju, semakin lama pula ketahanan keju. Alat penekan keju masa lalu mempunyai bentuk beragam. Ada yang disertai ukiran dan terbuat dari logam, mungkin pemiliknya orang-orang kaya. Ada pula penekan keju yang terbuat dari kayu. Oya, setelah matang keju-keju itu kadang sering tampak berlubang, kenapa ya? Ternyata lubang-lubang itu disebabkan oleh bakteri asam laktat yang muncul saat proses pematangan keju. Tapi mereka bakteri baik koq, jadi tidak berbahaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Anak-anakku berhamburan melihat satu alat ke alat lainnya dengan tak sabar. “Bunda, liat ke sebelah sini Bunda, yang ini belum.” Lala mengajakku melihat lukisan-lukisan orang Belanda pada abad ke-17 yang sedang membuat keju.<span>  </span>Di sebelahnya, tampak pula gaun perempuan Heillo dan Gouda tahun 1600. Gaun-gaun anggun bernuansa hitam polos<span>  </span>yang ditaburi sedikit warna merah itu membalut tubuh manequin perempuan Belanda. Agar tak rusak, gaun-gaun di pajang dalam sangkar kaca seperti di butik mahal. Hmm…baju-baju mereka jaman dulu betul-betul tertutup. Layaknya baju muslim saja, hanya tangan dan ujung kaki yang terlihat. Sedangkan sekarang? Dalam cuaca indah begini, kadang hanya baju dalam yang menutupi tubuh perempuan Belanda modern.<span>  </span>Ah dunia, semakin maju dirimu mengapa tak lagi kau sisakan rasa malu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Bunda…kesini, liat ini Bun…” Aik mengajakku melihat alat pemompa susu sapi. Alat itu berbentuk tabung susu besar dengan selang menjuntai dari bagian bawah tabung. Pipa kecil untuk menghisap terpasang di bagian ujung selang. “Aik mau difoto disini Ayah,” katanya sambil bergaya di depan sang tabung. Di sebelah alat pemompa susu sapi itu juga terdapat TV. Kami pun mengambil kursi dan duduk di depan TV. Lumayan, hitung-hitung mengistirahatkan kaki. “Tuh lihat Ik, jaman dulu orang meres susu sapi pake tangan, belum pake alat kayak itu.” Aik hanya melongo melihat sapi-sapi berkulit hitam putih dalam layar kaca itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dari brosur yang aku baca, sapi bercorak hitam putih di Belanda ternyata lebih banyak menghasilkan susu daripada yang berbintik coklat. Sapi-sapi itu bisa menghasilkan 20 liter susu per hari. Dan untuk menghasilkan 1 kg keju merek Gouda dibutuhkan 10 liter susu. Sekira 1,5 juta sapi bercorak hitam putih ini dikembangbiakkan di Belanda. Otot dan daging sapi jenis ini pun lebih banyak. Mengapa souvenir<span>  </span>berbentuk sapi dari Belanda selalu bergambar sapi hitam putih? Barangkali kelebihan si sapi hitam putih itu lah penyebabnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Yaa, ternyata<span>  </span>kalau meres susunya pake tangan, satu jam cuma bisa memeras 2 atau 3 sapi. Nah kalo meresnya pake alat pompa, satu jam bisa meres 7 sampe 10 sapi. Tuh lihat kebersihannya betul-betul dijaga, jadi setiap habis diperes<span>  </span>orangnya ngelap putting susunya pake handuk bersih.Oh tapi alat pompa itu ternyata udah kuno. Wah jaman sekarang meres susunya udah pake robot, langsung dicatat komputer lagi Hebat!.” Aku berdecak kagum melihat kecanggihan robot pemeras susu dalam tayangan TV itu. Norak!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Mbak Lala liat tuh Mbak, sapinya disuruh masuk ke dalam kandang pemeras susu. Sambil dikasih makan, robotnya langsung kerja meras susu sapi. Dia bisa mencari putting susu sapi yang belum diperas dan otomatis alat penghisapnya nempel di putting itu. Robotnya juga pinter ya, tahu kebersihan. Sesudah memeras satu putting, si robot selalu mengucurkan air untuk membersihkan handuk bekas pengelap putting itu. Hebat ya, satu jam bisa meres 50 sampe 70 sapi kalo pake robot. “ Panjang lebar kuterjemahkan teks yang aku baca dari layar kaca.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Di Indonesia kayaknya baru tahap memeras susu sapi pake tangan sama pake alat pompa sederhana itu deh Ma,” ucap suamiku. “Wah ketinggalan peradaban dong ya negara kita hehe.” Di kepalaku tiba-tiba muncul rumah saudaraku di pelosok dusun di Indonesia. Terakhir kali aku kesana sudah masuk abad 21, tapi rumah itu masih dihuni manusia beserta sapi ternaknya. Bayangkan di abad 21, saudaraku itu masih serumah dengan sapi! Duh, negeriku, selalu pilu tapi rindu bila mengingatmu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dari TV- TV lain yang terletak di berbagai sudut, kami juga menonton cara pembuatan keju jaman sekarang. Semuanya sudah serba robot. Susu-susu sapi dimasukkan dalam tank sangat besar setinggi gedung bertingkat tiga. Lalu susu-susu itu dikirim ke pabrik-pabrik keju, dipanaskan dan diproses dengan alat sedemikian canggih sehingga menghasilkan keju. Wow tentu semua peralatan ini sangat mahal. Kami juga melihat contoh<span>  </span>laboratorium mini kuno. Alat-alatnya persis sama seperti saat aku praktikum kimia medik di jalan Dago dulu. Dan lagi-lagi kami melihat TV di sebelah laboratorium mini itu. Gambar para peneliti<span>  </span>sedang bekerja di laboratorium masa lalu dan masa kini<span>  </span>tampak di layar kaca. Lalu sekelompok pria berbaju putih berdiskusi mengelilingi meja, melihat dan mencicipi kualitas keju.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Hmm…menghasilkan sebuah keju berkualitas ternyata membutuhkan proses panjang, sedemikian mahal, teliti dan rumit. Hampir 2 jam kami menikmati museum yang tak terlalu besar itu. Capek. Tapi, sebelum keluar museum, foto dulu dong sama keju Gouda. “Keju Gouda adalah keju terbaik di negeri Belanda, selain keju Edam. Gouda itu nama daerah di dekat Deenhag. Dari kota kecil itu lah keju produk Gouda berasal,” kata ibu tua penjaga museum. Ibu itu tersenyum ketar-ketir melihat Malik yang berfoto ala Samson<span>  </span>mengangkat keju di atas kepalanya. “Aduuh…kalau si keju dari kayu itu jatuh dan pecah gimana,” begitu barangkali batin si ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Jadi sekarang Ayah sudah tahu kan mengapa keju utuh berbentuk bulat?” tanyaku iseng pada suamiku. “Supaya gampang dikemas kan,” jawabnya singkat. “Kurang lengkap Ayah. Dulu kaum lelaki bekerja keras di peternakan, sedangkan yang bikin keju kaum perempuan di rumah. Jadi supaya meringankan pekerjaan mereka, keju dibuat bulat seperti roda, biar mudah digelindingkan. Nggak berat nggangkatnya gitu Yah. Hasil dari baca buku tentang keju seharga 2 Euro di pasar keju nih Yah,” jawabku berlagak pintar. “Sekarang udah tahu kan Lala sama Malik gimana caranya bikin keju?” Pertanyaanku beralih kepada dua buah hatiku. Mereka Cuma mengangguk lemah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dibalik keceriaan dan pendar mata yang selalu ingin tahu ada kelelahan disana. Namun semoga secuil ilmu tentang proses pembuatan keju yang mereka lihat dan dengar ini menempel di kepala mereka. Sungguh, tak ada yang instant di dunia ini anakku. Jangan tiru orang-orang di negeri kita yang kerap tak bisa menghargai proses. Pelajar bermoto yang penting lulus. Pejabat berijazah palsu yang ingin cepat naik pangkat. Duh negeriku, andai kau tahu betapa berharganya sebuah proses. Proses itu lah yang akan menghasilkan orang-orang bermutu, seperti keju berkualitas nomor satu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[endif]--></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=17&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-catatan-parenting-berproses-seperti-keju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belanda: Alkmaar, 5 Juni 2005, Atraksi di Pasar Keju.</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-atraksi-di-pasar-keju/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-atraksi-di-pasar-keju/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2005 20:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-atraksi-di-pasar-keju/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari Jumat, lapangan di depan bangunan kuno di pusat kota Alkmaar menjadi serupa magnet. Ia menyedot perhatian pengunjung. Orang-orang yang turun dari stasiun kereta api Alkmaar, umumnya segera menengok ke kanan dan ke kiri mencari peta. Mereka menunjuk-nunjuk tempat yang sama, dan akhirnya pergi ke arah yang sama pula, termasuk aku, suami dan anak-anakku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=18&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Setiap hari Jumat, lapangan di depan bangunan kuno di pusat kota Alkmaar menjadi serupa<span>  </span>magnet. Ia menyedot perhatian pengunjung. Orang-orang yang turun dari stasiun kereta api Alkmaar, umumnya segera menengok ke kanan dan ke kiri mencari peta. Mereka menunjuk-nunjuk tempat yang sama, dan akhirnya pergi ke arah yang sama pula, termasuk aku, suami dan anak-anakku. Kemana lagi kalau bukan ke pusat magnet itu, pasar keju.<span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-18"></span><br />
Kami berusaha menerobos kerumunan massa, yang menumpuk di pinggir-pinggir pagar besi. Pagar yang mengelilingi lapangan luas itu setinggi pinggang orang dewasa.<span>  </span>Aku berjinjit agar bisa melihat lebih tinggi, tapi tak mungkin aku mengalahkan orang-orang bulai yang menjulang itu. Kami mencari tempat di sudut lain yang lebih lapang. Apa sih yang membuat orang-orang berjejal melihat isi lapangan ini? Oh, tumpukan benda-benda bulat pipih berwarna kuning memenuhi lapangan. Benda itu seukuran bantal kursi bulat. Ada juga yang seukuran buah kelapa. Dia lah si keju yang menjadi aktor utama dalam tontonan ini. Pemeran pembantunya adalah para lelaki yang berbaju putih dan bertopi koboi. Topinya warna-warni ada yang merah, kuning, hijau dan biru. Mereka biasa disebut kaaszetters.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Di ruang penimbangan yang letaknya menjadi satu dengan bangunan kuno itu, pemberat dari besi seukuran ember kecil hingga ember besar digunakan untuk menakar keju.<span>  </span>Timbangannya antik seperti timbangan untuk menakar berat obat sewaktu aku belajar farmakologi dulu. Tapi timbangan ini raksasa. Alas timbangan di kiri kanannya bahkan bisa mengangkut beberapa manusia. Setelah ditimbang, para keju siap diangkut ke gerobak besar di tengah lapang. Alat pengangkut keju ini unik. Ia terbuat dari kayu. Bentuknya mirip kereta luncur<span>  </span>yang sering dipakai anak-anak saat musim salju. Dua orang kaaszetters bertopi merah berdiri di depan dan dibelakang alat angkut itu. Seutas tali membelit di bagian paling ujung kanan kiri kayu. Tali itu dibuat melingkar agar bisa dicangklong. Seperti membawa tas ransel, kedua lelaki berbaju putih tadi melingkarkan tali di bahu dan<span>  </span>berjalan membawa para keju. Saat para kaaszetters berjalan mengangkutnya, keju-keju itu<span>  </span>bergerak naik turun seperti sedang naik ayunan kayu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Itulah atraksi yang dimainkan oleh para pemain di pasar keju. Sebuah tradisi yang dimulai sejak ratusan tahun lalu dan kini tetap dipertahankan untuk menarik turis asing.<span>  </span>Seorang wanita membawa pengeras suara dan menjelaskan ritual tradisi itu dari tengah lapang. Wanita-wanita muda berpakhaian khas Belanda seperti yang ada di gambar kaleng susu berjalan mengelilingi lapangan menjajakan buku. Dengan membayar 2 Euro, aku bisa mendapatkan informasi soal tradisi<span>  </span>dan sejarah pasar keju dari buku itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Ah, saai (boring)…” Lala mulai mengomel. Atraksi yang diulang-ulang seperti ini memang membosankan untuk anak-anak. “Aik mau makan keju…Aik mau makan keju…” Aik mulai menyanyikan lagu aneh. Sejak kapan dia suka makan keju? Selagi memasak dengan tambahan keju, aku selalu mengaduk-aduknya dengan makanan<span>  </span>lain untuk menyamarkan bentuk aslinya. Anak-anakku tak pernah suka makan keju utuh. Pasti ini nyanyian kelaparan dari Aik. Ini memang sudah waktunya makan siang. Cerita semenarik apapun tak akan mampu mereka serap dalam keadaan rewel begini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kami pun segera beranjak membeli kentang goreng dan es krim untuk mengganjal perut. Hei ada orang berbaju khas Belanda berjualan pancake, makanan khas Belanda! Aku harus mencobanya. Di pinggir lapangan memang berjejer lapak-lapak para pedagang kaget yang menjual aneka jajanan dan souvenir khas Belanda. Kios pedagang keju tentu saja ada. Keju-keju itu dijual dengan berbagai rasa, paprika, bawang putih, bahkan keju rasa kacang!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Musim semi kali ini berbeda, cuaca begitu bersahabat. Suhu nyaris sama dengan kota Bandung, 24 derajat celcius. Jam 12.30 siang, atraksi selesai. Semua keju diangkut dengan mobil box. Pagar-pagar besi itu pun dilipat dan dimasukkan ke dalam ruang penimbangan. Sekejap, lapangan penuh tumpukan keju berubah menjadi jejeran kursi dan meja. Dengan cuaca cerah seperti ini, café di lapangan terbuka menjadi pilihan menarik untuk para bulai. Mengisi perut sambil memanggang kulit agar tidak tampak pucat, itu lah yang mereka lakukan. Dengan baju yukensi, pusar tampak disana-sini, para wanita bulai itu memilih duduk di bawah panas matahari. Kegiatan yang pantang dilakukan bagi umumnya wanita Indonesia. Akhirnya setelah perut kami ganjal, kami pun masuk dalam museum keju. Satu hal yang kudapatkan dari atraksi keju ini, keunikan masa lalu<span>  </span>yang dilestarikan pasti akan berbuah. Sejarah menjadi begitu mahal harganya sehingga menyedot manusia dari mana-mana datang untuk melihatnya!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=18&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/06/05/belanda-alkmaar-5-juni-2005-atraksi-di-pasar-keju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paris : Catatan parenting, &#8216;Yang Tak Hilang dari Perjalanan&#8217;</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/20/paris-catatan-parenting-yang-tak-hilang-dari-perjalanan/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/20/paris-catatan-parenting-yang-tak-hilang-dari-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2005 21:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/20/paris-catatan-parenting-yang-tak-hilang-dari-perjalanan/</guid>
		<description><![CDATA[Kami baru turun dari metro di Noisy Champ ketika tiba-tiba seorang anak lelaki negro tersandung dan terjatuh di depan kereta dorong Malik. Kejadian itu begitu cepat dan tentu saja anak-anakku menyaksikan semuanya. Bapak anak berkulit legam itu tiba-tiba datang. Tanpa ba bi bu ia langsung menampar dan menyeret anak itu. Tarikannya teramat kasar diikuti dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=16&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Kami baru turun dari metro di Noisy Champ ketika tiba-tiba seorang anak lelaki negro tersandung dan terjatuh di depan kereta dorong Malik. Kejadian itu begitu cepat dan tentu saja anak-anakku menyaksikan semuanya. Bapak anak berkulit legam itu tiba-tiba datang. Tanpa ba bi bu ia langsung menampar dan menyeret anak itu. Tarikannya teramat kasar diikuti dengan teriakan marah pula. Aku terkesiap. Ada yang tergores di dada ini melihat wajah kesakitan anak itu. Kemarahannya seperti si anak habis mencuri saja, padahal semua tak sengaja. Malik dan Lala hanya bisa melongo, begitu juga aku. Tapi aku tak bisa membiarkan kejadian ini terekam begitu saja di kepala anak-anakku.</p>
<p> <img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ber3-di-metro.jpg" alt="Ber3-di-metro.jpg" border="0" height="223" width="300" /><br />
Di dalam metro<span id="more-16"></span><br />
&#8220;Menurut Lala dan Aik, gimana ya perasaan kakak tadi dipukul sama ayahnya seperti itu?&#8221; tanyaku berjongkok di depan mereka.</p>
<p>&#8220;Sedih&#8221; Aik langsung menimpali.</p>
<p>&#8220;Sakit nggak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8221; jawab mereka dengan wajah bingung</p>
<p>&#8220;Ayah dan bunda pernah kayak begitu?&#8221;  Mereka pun menggeleng</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah ya, Aik dan Lala nggak punya ayah yang seperti itu&#8221;</p>
<p>Anak-anakku hanya diam. Barangkali masih bingung, atau mudah-mudahan sedang mencerna ucapanku. Semoga saja ini menjadi pelajaran berharga buat mereka.</p>
<p>Esok harinya, kejadian itu terulang lagi, tak separah kemarin memang. Di dalam metro, seorang ibu, lagi-lagi berkulit gelap, duduk di hadapan kami dengan ke tiga orang anaknya. Anak lelaki kecilnya tak bisa diam, ya namanya juga anak. Namun, si ibu memarahinya dengan berteriak galak. Matanya pun melotot sambil tangannya menarik-narik si kecil untuk duduk diam. Anak-anakku hanya bisa melongo lagi. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, mengapa berkulit gelap lagi? Pesan yang sama tak lupa kusisipkan pada anak-anakku.</p>
<p>Masih di hari serupa, di dalam metro pula, lagi-lagi seorang lelaki berkulit legam berulah. Dengan jas necisnya ia berdiri di hadapan kami, karena metro sedang penuh waktu itu. Diambilnya sebuah permen dari saku jasnya. Permen pun masuk ke mulutnya. Tapi&#8230;O&#8230;O&#8230;si bungkus permen? Dengan cueknya dia buang begitu saja ke lantai kereta. Tentu saja anak-anakku melihatnya. Dan tentu pula hatiku bertanya lagi, negro lagi?</p>
<p>&#8220;Harusnya sampahnya dibuang kemana ya?&#8221; Pertanyaan itu kulontarkan pada kedua buah hatiku. Pertanyaan yang tak butuh jawaban, karena aku hanya sekedar mengingatkan.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/menunggu-kereta-datang.jpg" alt="menunggu-kereta-datang.jpg" border="0" height="327" width="250" /></p>
<p>Menunggu Kereta DatangDi hari lainnya, tempat duduk di ruang tunggu kereta subway sedang penuh. Anak-anakku duduk di kereta dorongnya, dan kami berdiri menemani. Aku tersentak kaget dan baru tersadar, sepasang muda-mudi duduk di hadapan kami. Masya Allah, Malik terbengong-bengong menyaksikan pasangan yang sedang &#8216;berasyik masyuk&#8217; itu. Hebohnya luar biasa pula. Tak cukup sekedar Frenchkiss yang terkenal saja, tapi merajalela ke sekitarnya.</p>
<p>Di kota ini, pemandangan seperti itu memang sering sekali kami lihat. Parahnya, lebih liar daripada di kota kami. Frenchkiss yang terkenal itu betul-betul dilakukan dimana-mana, tak hanya satu-dua pula. Hmm&#8230;untung aku tadi melihatnya. Langsung saja mulutku berkata : &#8220;Malik sayang, berciuman itu hanya boleh untuk yang sudah menikah ya, seperti ayah bunda&#8221; Jagoan kecilku cuma diam. Pasti bingung lagi. Tapi semoga omonganku direkamnya.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-kasih-makan-burung.jpg" alt="Eiffel-kasih-makan-burung.jpg" border="0" height="339" width="250" /></p>
<p>Anak-anakku memang sering melongo melihat kejadian-kejadian seperti itu. Tapi mereka pun banyak tertawa. Seperti sewaktu mereka kegirangan memberi makan burung-burung di dekat menara Eiffel, juga di museum Louvre. &#8220;Lala bosan ayah bunda foto-foto terus&#8221; rengeknya kala kami sedang berada di dekat menara Eiffel. Beruntung ayah tak kehabisan akal. Diambilnya roti bekal yang tak termakan. Burung-burung pun berdatangan dan mematuki potongan-potongan roti itu. Anak-anakku tertawa riang. Dan mereka pun berkejar-kejaran dengan para burung. Burung-burung itu pasti bilang &#8220;Terimakasih Lala, terimakasih Aik karena sudah memberi makan kami. Allah pasti tambah sayang sama kalian&#8221; kata ayah menirukan suara hati burung.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-dan-badut.jpg" alt="Lala-dan-badut.jpg" border="0" height="317" width="250" /></p>
<p>Tawa yang ini lain lagi. Tawa takjub dan heran, juga kegirangan. Awalnya mereka ketakutan melihat badut di pinggir jalan. Badut itu berjualan balon-balon berbentuk lucu, yang dibuatnya setelah anak-anak bersalaman dan mengucapkan salam. &#8220;What is your name?&#8221; sapanya ramah. Sambil bersalaman, diberinya Lala sebuah permen. Lala langsung saja ingin mengambilnya. Tapi&#8230;eit&#8230;permennya malah lari ke atas. Tangan Lala segera menjumput permen ke atas. Eit&#8230;koq permennya lari lagi. Tangan Lala berkelak-kelok kesana kemari bagaikan ular, berusaha mengambil permen yang dipermainkan oleh sang badut. Tawanya riang sekali. Badut itu memang lucu dan pintar. Belit sana, belit sini, balon berbentuk bunga pun segera siap dipersembahkan, buat Lala seorang.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-badut-permen.jpg" alt="Aik-badut-permen.jpg" border="0" height="192" width="300" />Ha&#8230;ha&#8230;ha&#8230;tawanya senang. Tawa itu terdengar saat Malik berhasil mengambil permen dari sang badut. Matanya berbinar heran, melihat sang badut membuat balon berbentuk binatang. Dipeluknya balon macan itu dengan sayang. <em>&#8220;Ik houd van je. Je ben myn beste friendin</em> (aku sayang kamu, kamu teman baikku)&#8221; katanya riang. Tapi esoknya tangisnya tak kunjung hilang, saat balon macan itu kempes dan dibuang. &#8220;Hu&#8230;hu&#8230;hu&#8230;<em>Je ben myn beste friendin</em> hu&#8230;hu&#8230;hu&#8230;&#8221;</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-badut-macan.jpg" alt="Aik-badut-macan.jpg" border="0" height="230" width="300" /></p>
<p>Wajah mereka juga senang sekaligus ketakutan, saat melihat anjing dan kucing tidur akur berduaan. Anjing dan kucing itu menjadi tontonan bagi turis-turis yang berseliweran. Dengan iringan musik yang riang, anjing dan kucing tetap akur, tak peduli pada sekitar. Pemiliknya berkaca mata hitam, berdiri mematung sambil menunggu sumbangan. Anak-anakku mencoba mendekatinya perlahan. Tawanya terdengar, tapi tetap saja ketakutan.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-dan-anjing-kucing.jpg" alt="Lala-dan-anjing-kucing.jpg" border="0" height="226" width="300" /></p>
<p>Buah hatiku tersayang, betapa lugu dan lucu kalian. Perjalanan ini memang cukup mahal, apalagi bagi kami yang cuma pelajar. Tak cuma uang, kaki dan tanganpun pegal-pegal tak karuan. Tapi semahal apapun ongkos yang telah keluar, semua tak tergantikan melihat keriangan kalian. Semua tak terbayar melihat mata-mata polos kalian. Mata-mata takjub dan heran. Mata-mata penuh keingintahuan. Semoga semua yang terlihat tetap tercerna indah. Semoga segala yang terekam tak kan pernah hilang dan akan berbuah kebajikan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=16&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/20/paris-catatan-parenting-yang-tak-hilang-dari-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ber3-di-metro.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ber3-di-metro.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/menunggu-kereta-datang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">menunggu-kereta-datang.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-kasih-makan-burung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel-kasih-makan-burung.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-dan-badut.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lala-dan-badut.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-badut-permen.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aik-badut-permen.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-badut-macan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aik-badut-macan.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-dan-anjing-kucing.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lala-dan-anjing-kucing.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paris: Forum Des Hales, Notre Dame, Pompidou, dan Malam Nekat, 8 Mei 2005</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/08/paris-forum-des-hales-notre-dame-pompidou-dan-malam-nekat-8-mei-2005/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/08/paris-forum-des-hales-notre-dame-pompidou-dan-malam-nekat-8-mei-2005/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 May 2005 12:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/08/paris-forum-des-hales-notre-dame-pompidou-dan-malam-nekat-8-mei-2005/</guid>
		<description><![CDATA[Berpose di tengah jalan besar dengan mobil berseliweran di kanan kiri? Hmm seru deh. Malam itu kami nekat melakukannya. Anak-anak pun kami bela-belain ditinggal di pinggir jalan. Tapi tentu saja masih eye catching. Setelah berkeliling seharian hingga menunggu gelap karena ingin melihat Champs-Elysees dan Eiffel di tengah malam, akhirnya pemandangan yang luar biasa cantik itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=12&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left">Berpose di tengah jalan besar dengan mobil berseliweran di kanan kiri? Hmm seru deh. Malam itu kami nekat melakukannya. Anak-anak pun kami <em>bela-belain</em> ditinggal di pinggir jalan. Tapi tentu saja masih <em>eye catching</em>. Setelah berkeliling seharian hingga menunggu gelap karena ingin melihat Champs-Elysees dan Eiffel di tengah malam, akhirnya pemandangan yang luar biasa cantik itu kami lihat juga.</p>
<p> <img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Champs-elysees-ayahbunda.jpg" alt="Champs-elysees-ayahbunda.jpg" border="0" height="222" width="300" /><br />
Arc de Triomphe dari Champs-Elysees <span id="more-12"></span><br />
Di buku &#8216;Insight Guide Paris&#8217; Champs-Elysees ini disebut sebagai <em>&#8216;the world&#8217;s most famous avenue&#8217;</em>. Apalagi di depan Arc de Triomphe waktu malam, dengan cahaya lampu disana-sini. Wow keren abis deh bahasa gaulnya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> . Karena itulah kami nekat pergi kesana, walau harus menunggu malam. Musim semi begini, hari baru gelap sekira pukul 10 malam kan. Jadi anak-anak yang saltum (salah kostum) pun terpaksa dikerubuti sarung. Masalahnya kami tak membawakan jacket tebal maupun selimut untuk mereka.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-malam-keluarga.jpg" alt="Eiffel-malam-keluarga.jpg" border="0" height="222" width="300" /></p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Kostum-sarung.jpg" alt="Kostum-sarung.jpg" border="0" height="270" width="250" /></p>
<p>Terlantar di pinggir jalan dengan kostum sarungChamps-Elysees merupakan jalan raya besar dari Arc de Triomphe hingga Place de La Concorde. Dulunya, daerah ini terkenal sebagai tempat pemukiman elit kelas atas. Hingga kini, keindahannya tak pernah pudar. Hanya saja, tempat pemukiman elit tersebut sekarang telah berganti menjadi toko-toko mewah elegan, restoran terkenal, teater dan kantor-kantor penerbangan penting. Kawasan ini pun tetap ramai hingga tengah malam karena toko-toko disini diperkenankan buka hingga menjelang dini hari.</p>
<p>Arc de Triomphee lain lagi ceritanya. Gerbang kemenangan ini dibuat pada jaman Napoleon berkuasa di tahun 1806. Di bagian atas salah satu sisi gerbang kemenangan tersebut terdapat relief yang menggambarkan tentang kemenangan Napoleon. Sayangnya hingga ajal menjemputnya, bangunan ini belum selesai dibuat. Hanya jenazahnya saja yang berkesempatan melewati bangunan ini, saat mayatnya hendak dimakamkan ulang di Les Invalides pada tahun 1840. Manusia memang bisa saja menjadi paling berkuasa di dunia dan bisa saja menginginkan segalanya. Tapi Allah juga yang akhirnya punya Kuasa bukan?</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-Arc-de-Triomphe.jpg" alt="Aik-Arc-de-Triomphe.jpg" border="0" height="353" width="250" /><br />
Arc de Triomphe di siang hariKabarnya pemandangan dari puncak Arc de triomphe pun tak kalah cantiknya. Namun sayang, karena keterbatasan waktu, kami tak sempat menyaksikannya. Setelah puas menikmati Arc de Triomphe dari Champs-Elysees, kami langsung naik metro ke arah Trocadero untuk melihat Eiffel dari Palais de Chaillot. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Anak-anak pun sebetulnya sudah kedinginan. Apalagi Malik mengeluh sakit perut karena mencret 2 kali. Wah, tapi sudah kadung begini mau bagaimana lagi. Akhirnya tetap saja nekat menikmati Eiffel sejenak di malam hari.</p>
<p>Untungnya walaupun mengeluh kedinginan, Lala tetap senang berada di sana. Apalagi saat kerlap-kerlip Eiffel dinyalakan. Mulutnya ternganga sambil berkata &#8220;Wow&#8230;leuk (bagus)&#8230;&#8221; he he lucu sekali tampangnya ketika itu, betul-betul tampang takjub. Alhamdulillah setelah buang air besar 2 kali, Malik pun tak mengeluh sakit perut lagi. Jadilah kami berfoto ria disana. Ah&#8230;tak sia-sia rasanya pengorbanan kami. Eiffel dan pemandangan kota Paris di sekitarnya tampak indah sekali di malam hari. Pantas saja banyak film dibuat di tempat ini, mulai dari film-film romantis sampai film-film heroik seperti Superman dan James bond yang sangat terkenal.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-Eiffel-malam.jpg" alt="Lala-Eiffel-malam.jpg" border="0" height="367" width="250" /><br />
Saking takjubnya, Lala jadi mau foto sambil bawa balon bunga dehItu tadi sekelumit cerita tentang perjalanan di penghujung Minggu malam. Sebetulnya kami telah berkeliling sejak jam 10 pagi. Kawan-kawan deGromiest sudah kembali ke Groningen sejak Minggu sore. Pukul 11.00 siang mereka telah <em>check out</em> dari hotel. Sejak keluar dari hotel, kami bermaksud ingin melihat Ile de La Cite yang katanya tampak menawan dari atas cafe di pertokoan Samaritane. Tapi akhirnya kami nyasar di Forum Des Hales.</p>
<p>Forum des Hales merupakan kompleks pertokoan tertua di Paris.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=12&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/08/paris-forum-des-hales-notre-dame-pompidou-dan-malam-nekat-8-mei-2005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Champs-elysees-ayahbunda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Champs-elysees-ayahbunda.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-malam-keluarga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel-malam-keluarga.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Kostum-sarung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kostum-sarung.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Aik-Arc-de-Triomphe.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aik-Arc-de-Triomphe.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Lala-Eiffel-malam.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lala-Eiffel-malam.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paris: Eifel dan Sekitarnya, 7 Mei 2005</title>
		<link>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/07/paris-eifel-dan-sekitarnya-7-mei-2005/</link>
		<comments>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/07/paris-eifel-dan-sekitarnya-7-mei-2005/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2005 11:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/07/paris-eifel-dan-sekitarnya-7-mei-2005/</guid>
		<description><![CDATA[Ada apa dengan Eiffel? Mengapa menara Eiffel dijadikan simbol kota Paris? Begitu pertanyaan yang terlontar dari mulut kami ketika menyaksikan turis-turis dari berbagai negara menyemut di taman hijau Champs-de-Mars&#8211;kawasan hijau di bawah menara Eiffel. Antrian untuk naik ke menara Eiffel pun begitu panjang. Dari arah mana saja mata memandang, menara Eiffel memang tampak mempesona. Tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=11&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada apa dengan Eiffel? Mengapa menara Eiffel dijadikan simbol kota Paris? Begitu pertanyaan yang terlontar dari mulut kami ketika menyaksikan turis-turis dari berbagai negara menyemut di taman hijau Champs-de-Mars&#8211;kawasan hijau di bawah menara Eiffel. Antrian untuk naik ke menara Eiffel pun begitu panjang. Dari arah mana saja mata memandang, menara Eiffel memang tampak mempesona. Tak kurang dari 6 juta orang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya. Apalagi dengan taman klasik dan rumput hijau yang terbentang dari menara Eiffel hingga sekolah militer, semua membuat kawasan tersebut terlihat semakin indah. Taman klasik ini dihiasi boulevard dengan pohon-pohon yang tertata apik berbentuk persegi panjang. Dari sisi lainnya, sungai Seine terbentang, membelah jalan antara menara Eiffel dengan Palais de Chaillot. Menara Eiffel berdiri kokoh bagaikan raksasa kehausan yang ingin melepas dahaga sejenak di sungai Seine. <img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-keluarga.jpg" alt="Eiffel-keluarga.jpg" border="0" height="242" width="300" /><span id="more-11"></span></p>
<p align="left">Kemegahan menara yang mulai dibangun tahun 1887 dan selesai tahun 1889 pada saat revolusi industri ini merupakan bukti kejeniusan manusia pada masanya. Bangunan kuno nan megah disekitarnya&#8211;yang menyimbolkan masa lampau&#8211;terkalahkan oleh ketinggian menara Eiffel yang merupakan bangunan modern. Menara ini seolah ingin menyongsong masa depan dan membuktikan pencapaian yang telah dilakukan manusia. Barangkali karena itulah menara ini kemudian dijadikan simbol kota Paris.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Bunda-Eiffel.jpg" alt="Bunda-Eiffel.jpg" border="0" height="243" width="300" /></p>
<p>Kami menikmati pemandangan cantik tersebut dari Palais de Chaillot. Sebelum ke tempat ini, sebetulnya kami sempat mampir ke Arc de Triomphe bersama rombongan. Namun karena kawan-kawan tidak ingin mampir ke Palais de Chaillot, akhirnya kami berpisah dari rombongan. Tempat yang dibangun pada tahun 1937 ini, teras utamanya membelah kedua paviliun di kanan kiri, bagaikan sepasang lengan. Paviliun tersebut kini digunakan sebagai museum. Di salah satu museum tersebut, museum angkatan laut, terdapat kapal yang membawa jenazah Napoleon dari St Helena. Dari teras Palais de Chaillot juga terdapat tangga-tangga turun ke arah sungai Seine, dengan taman indah berhiaskan air mancur dan patung-patung dengan ukiran-ukiran yang unik.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Keluarga-arc-de-triomphe.jpg" alt="Keluarga-arc-de-triomphe.jpg" border="0" height="325" width="250" /></p>
<p>Gerbang Kemenangan, Arc de TriompheSetelah puas menikmati Eiffel dari kejauhan, kami berjalan mendekati menara Eiffel sambil menikmati taman yang terbentang di depan Palais de Chaillot tadi. Dari jembatan yang membelah sungai Seine, kami berhenti sejenak untuk melihat kapal-kapal yang berseliweran membawa turis yang ingin menyaksikan kota Paris lewat sungai Seine. Kami pun tak ketinggalan menaiki kapal penumpang tersebut dan berkeliling sungai Seine sekira 1 jam.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-palais-de-chailot.jpg" alt="Ayah-palais-de-chailot.jpg" border="0" height="204" width="300" /></p>
<p>Palais de ChaillotSaat antri membeli ticket, kami melihat kejadian yang cukup mengagetkan. Seorang turis yang hendak naik kapal tampaknya terkena serangan jantung. Polisi dan petugas kesehatan berseliweran menjaga tempat tersebut, dan mencoba menyelamatkan turis gemuk tadi dengan alat pacu jantung. Peralatan yang dipakai begitu lengkap, dan sepertinya sempat juga dilakukan EKG ditempat. Namun sayang, turis tersebut gagal diselamatkan dan sang istri pun menangis sesenggukan. Selain menyaksikan betapa sigapnya petugas kesehatan setempat, kejadian itu juga menjadi sentilan bagi kami untuk selalu ingat padaNya kapanpun. Disaat sedang pelesir seperti ini, orang malah terbuai dan sering lupa bukan?</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Notre-dame-dari-kapal.jpg" alt="Notre-dame-dari-kapal.jpg" border="0" height="196" width="300" /></p>
<p>Notre Dame tampak dari kapalDengan biaya 9,5 euro untuk dewasa dan 4,5 euro untuk anak-anak, kami melihat bangunan-bangunan megah kuno sepanjang sungai Seine dari atas kapal. Pemandu wisata di dalam kapal menjelaskan bangunan-bangunan dan pemandangan yang tampak mulai dari left bank dan right bank. Terdapat 24 jembatan&#8211;dengan keunikan masing-masing jembatan&#8211; yang menghubungkan sisi kanan dan kiri sungai Seine. Ada jembatan yang disebut jembatan yang paling romantis, Pont Neuf yang artinya jembatan baru tapi sebetulnya merupakan jembatan tertua di Paris, ada pula jembatan yang bernama Pont Alexandre III dengan patung-patung unik bertengger di sepanjang jembatan tersebut.</p>
<p>Pukul 4 sore, usai menikmati Paris dengan kapal, kami beristirahat sejenak di bawah menara Eiffel sambil menunggu Lala dan Malik yang menikmati es krim berbentuk lucu. Bunda sempat kaget karena tiba-tiba seorang wanita berkerudung datang menghampiri dan bertanya <em>&#8220;Do you speak English?&#8221;</em> Lalu setelah bunda mengangguk, perempuan muda tadi menunjukkan secarik kertas dan menyuruh bunda membacanya. Oh&#8230; ternyata begini model pengemis di Paris. Di kertas yang ditulis dengan bahasa Inggris itu dijelaskan bahwa dia berasal dari Bosnia, sudah kehilangan orangtua, dan butuh uang untuk makan. <em>Well</em>, tadinya bunda menolak, karena tampaknya perempuan muda gemuk itu baik-baik saja. Tapi karena dia menghiba, dan bunda tak mau pusing, keluar juga 50 cent euro dari kantong akhirnya. Hmm lucu juga modus operandi pengemis yang digunakan di Paris ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Dibawah-eiffel.jpg" alt="Dibawah-eiffel.jpg" border="0" height="225" width="300" /></p>
<p>Antrian yang panjang di bawah eiffelSebetulnya kami penasaran juga ingin naik ke puncak menara Eiffel. Apalagi Malik pun merengek meminta untuk naik ke atas. Tapi karena antrian yang begitu panjang dan biayanya pun cukup lumayan (10,5 euro per orang dewasa), jadilah kami memutuskan untuk menikmati Eiffel dari bawah saja. Sebagai pengganti keinginan Malik yang tetap bersikukuh ingin naik ke puncak Eiffel, ayah mengajak main sapi-sapian dan berkejar-kejaran di taman hijau itu. Selain itu, Malik dan Lala pun sempat ikut balap mobil-mobilan yang tersedia di pinggir taman. Dengan membayar 1,5 Euro, mereka boleh memilih mobil balap atau motor, kemudian berkelililing area sebanyak 7 putaran.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-sapi-sapian.jpg" alt="Eiffel-sapi-sapian.jpg" border="0" height="335" width="250" /></p>
<p>Main sapi-sapian di kawasan hijau Eiffel<br />
<img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-mobil-balap.jpg" alt="Eiffel-mobil-balap.jpg" border="0" height="206" width="300" /></p>
<p>Main balap mobil di kawasan hijau jugaPerjalanan kami lanjutkan dengan melihat sekolah militer tempat Napoleon dulu bersekolah. Kemudian kami pun berjalan menuju Les Invalides. Di kompleks yang luas ini terdapat dome(kubah) invalides dari gereja St Louis, dan hotel des Invalides. Di depan taman hotel ini ada deretan meriam dari abad XVII dan XVIII. Kubah invalides yang berwarna keemasan tampak menjulang megah dari kejauhan. Di dalam kubah ini lah, di ruang bawah tanahnya, terdapat nisan Napoleon. Napoleon Bonaparte meninggal di St Helena pada tanggal 5 Mei 1821. Setelah 7 tahun kemudian barulah orang Prancis mendapatkan ijin dari pemerintah Inggris untuk membawa jenazahnya ke Perancis.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-sekolah-militer.jpg" alt="Ayah-sekolah-militer.jpg" border="0" height="149" width="300" /></p>
<p>Sekolah militernya Napoleon<br />
<img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/bunda-invalides.jpg" alt="bunda-invalides.jpg" border="0" height="331" width="250" /><br />
Les Invalides</p>
<p>Sayangnya kami tidak sempat masuk ke dalamnya, juga ke dalam hotel des Invalides karena jam buka ternyata hanya sampai pukul 18.45. Hotel des Invalides yang kini dijadikan sebagai museum, di masa lalu merupakan tempat peristirahatan bekas tentara yang sudah tua dan cacat&#8211;yang pada masa itu terpaksa menjadi pengemis untuk bisa bertahan hidup.</p>
<p>&#8220;Prit&#8230;prit..prit&#8230;&#8221; bunda kaget sekali sewaktu peluit bertiup keras ke arah kami yang sedang mengambil foto. Ternyata, peluit itu teguran buat kami yang tetap <em>keukeuh</em> mengambil foto saat museum sudah hampir tutup. Untung kami tidak sendirian, turis lain pun sama-sama kena semprit karena membandel hehe.</p>
<p>Walaupun kaki sudah cukup lelah, kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan ke La Place de La Concorde. Di jama revolusi, kawasan ini pernah dijadikan lapangan untuk memenggal kepala orang (<em>guillotine</em>). Raja Louis XVI dan permaisurinya Marie Antoinette pun dipenggal lehernya di tempat ini pada bulan Januari 1793. Dua tahun kemudian, pada tahun 1795, barulah kemudian tempat ini dijadikan Place de La Concorde.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-obeliks.jpg" alt="Ayah-obeliks.jpg" border="0" height="364" width="250" /></p>
<p>Obeliks dari Mesir</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Air-mancur-obeliks.jpg" alt="Air-mancur-obeliks.jpg" border="0" height="222" width="300" /><br />
Air mancur di sisi kanan-kiri Obeliks</p>
<p>Di tengah-tengah lapangannya terdapat obeliks Mesir. Obeliks ini diberikan pada tahun 1829 sebagai hadiah dari Mesir kepada Louis Philipe (Charles X). Dan ternyata diibutuhkan waktu 4 tahun untuk membawa obeliks ini dari Mesir ke Paris. Di setiap sisi obeliks terdapat tulisan hieroglif yang menggambarkan kebajikan Ramses II sebagai pharaoh Mesir. Sedangkan dikedua sisi lainnya terdapat gambar-gambar bagaimana obeliks ini diletakkan di lapangan tersebut. Selain itu, agak jauh di sebelah kanan kiri obeliks mesir juga terdapat 2 buah air mancur yang dipercaya kerap menghadirkan suasana magis.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Arc-de-Triomphe-dr-obeliks.jpg" alt="Arc-de-Triomphe-dr-obeliks.jpg" border="0" height="187" width="300" /><br />
Gerbang Kemenangan tampak dari Obeliks</p>
<p>Di masanya, kota Paris tampaknya telah diatur dengan demikian apik. Jalan-jalan besar terbentang tanpa kemacetan dengan boulevard di sepanjang sisi-sisi jalan. Obeliks berada di tengah antara Arc de Triomphe dan Louvre. Bila kita memandang lurus dari arah Obeliks, akan tampak kemegahan Arc de Triomphe dengan pohon-pohon berbentuk persegi panjang di kanan kirnya. Sedangkan dari arah sebaliknya, Louvre yang dulunya merupakan istana Napoleon pun tampak berdiri megah. Sungguh merupakan karya masa lampau yang mengagumkan.</p>
<p>Hmm&#8230; capek juga perjalanan seharian ini. Sambil berjalan ke arah metro terdekat, kami sempat berfoto sejenak di depan La Madeleine, sebuah tempat pemujaan bergaya Yunani di tengah-tengah Paris. Mulanya Napoleon menghendaki tempat ini dijadikan monumen bagi Great Army. Lalu pada tahun 1814, bangunan ini dijadikan gereja yang dipersembahkan bagi St. Mary Magdalena.</p>
<p><img src="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-magdalena.jpg" alt="Ayah-magdalena.jpg" border="0" height="218" width="300" /><br />
Bangunan Yunani Klasik di tengah kota Paris</p>
<p>Tak terasa, malam telah menjelang, kami pun segera naik metro ke arah Noisy Champ. Oh, ternyata kami baru tiba di hotel pukul 23.30. Perjalanan panjang sejak pukul 9 pagi yang cukup melelahkan namun membawa kepuasan tersendiri.</p>
<p><cite></cite></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingwithfamily.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingwithfamily.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingwithfamily.wordpress.com&amp;blog=1489060&amp;post=11&amp;subd=travelingwithfamily&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingwithfamily.wordpress.com/2005/05/07/paris-eifel-dan-sekitarnya-7-mei-2005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-keluarga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel-keluarga.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Bunda-Eiffel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bunda-Eiffel.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Keluarga-arc-de-triomphe.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Keluarga-arc-de-triomphe.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-palais-de-chailot.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayah-palais-de-chailot.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Notre-dame-dari-kapal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Notre-dame-dari-kapal.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Dibawah-eiffel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dibawah-eiffel.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-sapi-sapian.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel-sapi-sapian.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Eiffel-mobil-balap.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel-mobil-balap.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-sekolah-militer.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayah-sekolah-militer.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/bunda-invalides.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bunda-invalides.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-obeliks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayah-obeliks.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Air-mancur-obeliks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Air-mancur-obeliks.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Arc-de-Triomphe-dr-obeliks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Arc-de-Triomphe-dr-obeliks.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lala.ismailfahmi.org/arc/Ayah-magdalena.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayah-magdalena.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
