Spektakuler! Satu kata itu deh yang kuberikan untuk menggambarkan pemandangan yang tampak dari Balcony of Europe. Aku merasa betul-betul nggak rugi datang ke tempat ini, tempatnya betul-betul cantik, persis kaya foto-foto di websitenya. Kalau dibandingkan dengan pantai di pulau Bali, keduanya sama-sama cantik, masing-masing menawarkan keunikan tersendiri. Nggak heran kalau Balcony of Europe ini disebut sebagai ‘heart of Nerja’. Karena kecantikannya semua turis pasti pada kesitu. Sebelum sampai ke Balcon, tempat memandang lepas ke pantai dan ke gunung Sierra Almijara, kami melewati boulevard palm dengan beberapa kereta kuda lagi parkir. Duh, romantis banget deh suasananya. Sayang disayang cuaca betul-betul hot, mungkin lebih dari 40 derajat C. Alhasil kami nggak kuat berlama-lama di atas balcon. Uniknya lagi di atas balcon terpasang meriam kuno (yang dulu katanya dipakai untuk melawan bajak laut dan invaders). Di dekat meriam itu juga ada patung lelaki tua entah patung siapa, raja jaman dulu mungkin atau pengawalkah? Setelah mencoba googling aku tetep nggak nemu identitas si patung.

Dari atas Balcon ini kami juga bisa memandang pantai di sebelah kanan dan kirinya. Pantai ini dipenuhi oleh ‘pepesan’ yang lagi berjemur. Penuuh banget si pantai sama orang yang berjemur. Perahu-perahu yang berjejer, payung-payung besar untuk berjemur, orang-orang yang sedang bermain di pantai dan karang-karang besar di tepi pantai membuat pemandangan di pantai ‘playa de calahonda’ dan ‘playa el salon’ juga memesona. Konon, balcon yang seperti menggantung diatas tebing ini dibuat oleh suku Moorish di abad ke-9.
Dari arah Balcon setelah melewati ‘palm avenue’ banyak toko-toko kecil yang menjual souvenir lucu-lucu, minyak zaitun dan buah-buahan. Nerja adalah salah satu penghasil minyak zaitun dan buah-buahan. Selain itu ada juga gereja El savador yang dibangun abad 17 dan taman capistrano playa, yang katanya menarik juga. Tapi kami tidak pergi kesana. Kami lebih memilih turun ke pantainya.

Dan apa yang terjadi ketika aku turun ke pantai? Olala…hampir semua mata bule-bule yang setengah telanjang itu menatapku!”Gile cuaca hot begini ada cewe kerudungan, berkacamata hitam, berpayung dan berkaos kaki pulak turun ke pantai,” gitu kali ye pikir mereka. Duuh geer deh aku. Ya bukan geer lah, mereka bener-bener menatapku silih berganti loh. Apalagi waktu aku penasaran ingin main di daerah yang berkarang-karang. Wuah mereka pada kaget kali liat aku, kaya ngeliat hantu hehe. Akhirnya aku sadar diri deh, tempatku bukan disitu. Lagipula ayah juga gerah liat dada diumbar dimana-mana begitu. Sayang sih, padahal airnya jerniih banget dan anak-anak pasti suka kalau main dipantainya. Tapi selain penuh, cuaca yang panas banget membuat anak-anak juga ga minat main dipantai. Malik hanya senang menghitung kucing yang banyak beredar disana. “Ada 8 kucing Bun, Aik itung,” katanya. Sedangkan Lala cuma semangat mencari kerang.

Akhirnya kami pindah mencari tempat adem, persis di bawah balcon. Anak-anak senang main disana. Lala juga tambah girang setelah diberi kepercayaan untuk memegang kamera digital. Dia sibuk motret sana-sini. Aik yang nggak kebagian kamera awalnya rewel, tapi setelah itu, Aik sibuk cari batu dan melempar-lempar batu ke laut. Karena di dekat bebatuan banyak semut, Aik lalu bertanya,”Buat apa semut?” Pertanyaannya terus merembet, setiap yang ia lihat pasti ditanyakan,”Buat apa batu? Buat apa laba-laba? Buat apa kerang?” Tanya Aik. Dan aku serta suamiku pun harus ikut berpikir untuk menjawabnya.
Di bawah balcon ini kami bisa naik diatas batu-batu karang. Aku melihat sepasang manusia lagi snorkling. Tampaknya indah sekali melihat terumbu karang yang ada di daerah pantai ini. Setelah puas berfoto, kami kembali naik ke atas balcon. Lala sempat berbalet ria di balcon itu. Karena aku masih penasaran dengan foto ala baju flamenco, kami berjalan mengitari jalan-jalan sempit di sekitar palm avenue. Orang-orang Spanish sungguh sulit berbahasa Inggris, kami hanya menggunakan bahasa tarzan. Kami malah ditunjukkan studio foto, tapi tak ada kostum flamenco disana. Wah! Ya sudah akhirnya kami mencari makan untuk mengganjal perut selama di bis nanti. Kami harus naik bis ke Granada pukul 19.15.
Jam masih menunjuk angka 18.00. Kami sudah tiba di dekat stasiun. Karena belum juga bertemu dengan resto penjual makanan, akhirnya kami leyeh-leyeh sejenak di taman dekat bus stasiun tersebut. Anak-anak girang sekali melihat air mancur. Cuaca sungguh panas, dan mereka pun butuh sesuatu yang mereka senangi. Mereka kubiarkan saja berbasah-basahan.Akhirnya mereka betul-betul basah. Mereka berlarian disekitar air mancur sambil membasahi daun-daun besar yang mereka ambil dari taman. Wajah mereka sungguh sumringah. Tawa nyaring pun kerap terdengar. Syukurlah kalau mereka bisa menikmati liburan ini.

Sementara ayah mencari makan, aku sibuk belajar jeprat-jepret di sekitar taman. Lagi-lagi aku melihat opa-opa sedang kongkow-kongkow di taman itu. Lalu setelah ayah datang, ayah menyuapi anak-anak makan. Rupanya, resto dengan menu seafood hanya bisa dijumpai di dekat pantai, padahal aku sudah ngiler ingin makan seafood. Ayah hanya berhasil menemukan penjual omelet telur dan ayam. Ya sudah, dalam keadaan lapar, semua nikmat deh. Dan berhubung aku ingin buang air kecil, maka aku lah yang kebagian tugas mengambil koper. Setelah koper kuambil, kami pun makan di taman dan mengganti baju anak-anak yang basah di taman.
Pukul 19.00 kami buru-buru menaiki bis ke arah Granada yang sudah menunggu. Anak-anak yang hanya bersandal jepit segera duduk di kursi masing-masing. “Apa yang paling aik suka di Balcony of europe tadi Ik?” Aik pun menjawab,” Aik paling suka pas lempar batu ke laut. Aik juga suka pas di air mancur nutupin air mancurnya pake daun terus basahin mbak lala,” katanya. Dan Lala?”Mbak lala paling suka di pantai karena pake kamera jadi fotografer.”
Hmm..Balcony of Europe yang indah. Sayang kami tak sempat menikmati pantaimu. Mungkin suatu hari nanti, jika Allah menghendaki, semoga kita bisa jumpa lagi ya
.