Baru jam 11 Malam kami sampai di hostal Abril Nerja, tempat kami menginap, tapi pukul 9.00 pagi, kami sudah harus check out. Kami memang hanya akan menghabiskan satu hari saja di Nerja. Jadi setelah check out, koper kami titipkan dalam hostal. Biasanya tiap hotel sudah punya ruangan khusus untuk menyimpan koper para tamu. Koper ini nanti akan kami ambil setelah kami puas keliling Nerja sebelum kemudian berangkat ke Granada. Untungnya hostal Abril ini hanya 100 m saja jaraknya dari halte bus, jadi kami tak terlalu repot menggeret koper-koper kami.

Cuaca Nerja di pagi hari masih tak terlalu panas, mungkin sekitar 36 derajat C. Kota ini mungil, tak terlalu padat dan juga cantik. Ketika memandang jauh, kami bisa menyaksikan ‘white village’ yang seperti menggantung di atas bukit-bukit sekitar Nerja. Nerja terletak di kaki gunung Sierra Almijara yang langsung bertemu lautan mediterania. Jadi tak heran kalau kota ini diburu turis karena tempatnya yang unik. Pemandangan gunung Sierra Almijara sekaligus laut ini bisa dinikmati dengan indah dari ‘Balcon de Europa’, jantungnya kota Nerja. Selain itu Cueva de Nerja, gua yang menyimpan sejarah jaman pre historic, dan frigiliana,’white village’ khas spanish, membuat kunjungan ke kota ini semakin worthy rasanya. Bener-bener nggak rugi deh datang ke kota ini, sungguh menawan! Sayangnya kami ga bisa menikmati pantainya yang cantik berkarang-karang. Karena waktu sehari betul-betul kami padatkan untuk melihat 3 atraksi utama di Nerja: Frigiliana, Cueva de Nerja dan Balcon de Europa!
Frigiliana
Frigiliana terletak 5 km saja dari Nerja. Jam waktu itu sudah menunjuk hampir pukul 9.45 pagi. Menurut jadwal yang kubuat, bis ke Frigiliana ada pada jam segitu. Kami menunggu-nunggu bis itu di halte, tapi si bis tak kunjung kelihatan. Untungnya dalam time table-ku tertulis, bis ke Frigiliana itu berwarna krem dan hijau. “Itu dia bisnya!” Aik dan Lala menunjuk bis panjang berwarna krem dan putih di seberang halte. Hmm..syukurlah! Pas sekali! Kami pun buru-buru menyeberang jalan dan naik ke dalam bis itu. Ternyata setelah kami duduk, bis pun langsung berangkat. Ongkos naik bis ini 0,95 cent per orang. Sayangnya, anak-anak pun harus bayar, jadi lumayan menguras kocek juga nih.

Frigiliana merupakan salah satu desa tercantik di Malaga. Banyak pensiunan orang Inggris yang ingin hidup damai menjalani masa tua disini. Desa ini terletak di kaki gunung Sierra Almijara. Jadi nggak heran kalau setelah berhenti di haltenya, kami langsung disuguhi jalan menanjak untuk mencapai pusat desanya. Katanya di puncak desa itu pemandangannya spektakuler. Di puncak desa itu juga ada gereja yang menarik dan di old quarter-nya ada 12 mosaik karya Pilar Garcia Millan.
Namun sayang disayang, karena udah keder duluan liat jalan nanjak yang begitu menjulang, kami akhirnya malah ga sempet naik ke puncak desanya ihiks. Padahal disalah satu kios souvenirnya kita juga bisa foto pake baju flamenco. Duh nasib dah! Padahal foto-foto unik begitu kedemenan aku tuh. Awalnya setelah keluar bis, anak-anak liat speeltuin (taman bermain). Ya wis, berhamburanlah mereka kesana. Kami cukup lama juga main-main disana sambil melihat pemandangan yang cukup indah. Kami bahkan ditemani oleh opa-opa yang pada kongkow-kongkow di kursi
. Para opa yang demen kongkow-kongkow ini tampaknya khas juga di Andalucia. Sebab aku melihatnya nggak cuma sekali. Lucunya para opa ini pake ‘kostum’ yang sama, kemeja pendek rapi dimasukkan ke celana panjang katun, dengan ikat pinggang melingkar tentu saja. Lalu, opa-opa itu juga pada pake topi bambu model koboy gitu, berikut nyangklong pipa rokok dan bawa tongkat, lucu banget deh liatnya. Kayak emak-emak yang lagi ngumpul ngerumpi aja hehe.
Naa setelah puas main di speeltuin, ayah malah ngajak turun, bukannya naik ke puncak desa. Berikut ayah kan baru belajar fotografi, belum profesional tea, jadi foto-fotonya lamaa banget untuk mendapatkan hasil yang oke. Duh aku ampe pegel begaya deh hehe. Untungnya anak-anak sih asik-asik aja. Lala senang karena misinya mencari bunga berhasil. Disana banyak kembang sepatu beraneka warna, ada pink, putih, oranye dan merah kalo nggak salah. Sedangkan Aik berhasil juga mendapatkan misinya yaitu si keranjang sampah tea
. Aik juga senang sekali main lempar-lemparan batu dari atas lereng ke bawah. Tentu saja Aik juga nggak lupa membawa batu van Frigiliana. “Aik mau koleksi Bun,” katanya beralasan.

Setelah satu jam lebih, barulah kami mau beranjak naik ke puncak desa. Eeh tapi nggak taunya si bis sudah datang. Kami memang hanya punya waktu nggak sampe dua jam di desa ini, berhubung kami juga masih ingin menikmati atraksi lain di Nerja. Alhasil belum sampai ke puncak desa, hanya sempat beli souvenir beberapa, kami langsung balik ke bis untuk kembali ke Nerja. Ya begitulah, tak semua keinginan bisa tercapai. Tak semua rencana bisa berjalan mulus. Karena rencana manusia selalu tak sempurna. Dia lah Sang Maha pengatur yang rencanaNya tentu sempurna dan pasti ada maksudnya. Jadi enjoy saja!
Cueva de Nerja
Menjelang jam 12.00 siang, kami sudah tiba lagi di stasiun bus Nerja. Kami langsung mencari bis ke arah Cueva de Nerja. Gua yang didalamnya banyak terdapat stalagtit dan stalagmit ini terletak hanya 3 km saja dari Nerja. Jadwal bus ke cueva lebih banyak daripada ke Frigiliana. Hanya 15 menit naik bis dengan pemandangan white village dan lereng-lereng bukit dengan sedikit pepohonan, kami lalu tiba di cueva de Nerja.

Untung lah perbekalan nasi dan gepuk masih ada, jadi kami bisa ngaso dulu. Selain menghemat biaya, makan perbekalan sendiri juga mempersingkat waktu. Kalau di resto nunggu menu kelar lamaa bener. Halaman parkir cueva de nerja luas sekali. Cuaca Nerja yang suhunya sekira 40 derajat C, jadi agak adem dengan pepohonan rimbun di area itu. Selain lapangan parkir, restaurant,toko souvenir, WC dan juga tempat membeli foto ada di halaman luar gua Nerja.
Setelah perut terisi, kami langsung membeli karcis untuk masuk ke dalam gua. Ticket masuknya lumayan juga, 7 Euro per dewasa dan 3,5 euro untuk anak-anak. Berhubung di dalam gua naik turun tangganya banyak banget, jadi baby buggy kami harus kami tinggal di luar. Tapi alhamdulillah, Lala dan Malik semangat sekali masuk gua. Dengan tas ransel di punggung masing-masing, mereka tak sabar masuk ke dalam.
“Wow!” Mata lala melebar dan mulutnya sedikit ternganga setelah masuk ke dalam gua yang remang-remang. Tapi setelah bilang wow, dia juga mengkerut,”Ik ben bang..ik ben bang…(aku takut),” katanya berkali-kali ke Malik. Gua itu memang dikelola dengan sangat baik. Sang pengelola gua membuatkan jalan setapak khusus dengan pagar, sehingga pengunjung merasa nyaman. Selain itu pengunjung juga tak bisa merusak atau mencorat coret isi gua karena sudah diberi pembatas yang jelas begitu. Hmm jadi ingat gua-gua di Indonesia, mungkin sebenarnya gua ini agak mirip dengan gua di Baturaden. Tapi sayangnya gua di Baturaden tak terawat, stalagtit dan stalagmitnya pun tak sebanyak dan seindah dalam gua ini. Column di gua ini bahkan masuk guiness book of record karena lebarnya mencapai 32 m dan tingginya mencapai 1,7 m.

Pemandangan pertama setelah masuk, kami melihat galian tanah, seperti galian jalan yang di dalamnya terdapat banyak peralatan menggali. Rupanya galian itu memang sebuah model, agar pengunjung tahu apa saja alat yang diperlukan untuk menggali. Lalu kami disuguhi beberapa display dalam kotak kaca seperti di museum. Anak-anakku semangat sekali mengintip-intip isi display. Disitu terdapat beberapa gambar manusia purba, jaman paleolitic. Mereka tampak sedang meletakkan jenasah temannya dalam gua. Lalu juga tampak gambar mereka sedang memanggang binatang hasil buruannya. Rupanya gua itu dulu dijadikan makam manusia, jadi banyak tengkorak juga disana. Selain itu, atraksi paling langka di gua ini adalah lukisan dinding orang-orang jaman paleolitic, yang paling jelas adalah lukisan gambar rusa dan gambar seperti angka delapan. Kami hanya bisa melihat gambarnya saja, karena area untuk melihat lukisan dinding dalam gua ini tertutup. Gua tempat lukisan itu berada hanya boleh dimasuki oleh para peneliti.
Perjalanan kami berlanjut. Aik selalu ‘lepas’ ngeloyor jalan duluan di depan. “Disini mau foto-foto atau liat gua?” Begitu protes Aik kalau ayahnya sibuk foto-foto dan tak juga beranjak dari satu tempat. Kemudian setelah melalui sebuah tangga turun lagi, tiba-tiba ada orang berkata,”Smile!” Lalu sekilas cahaya menyorot wajah dan suara jepretan foto pun terdengar. Oalah rupanya tukang fotonya sembunyi disini. Kami tiba-tiba dijepret dan dikasih karcis masing-masing satu. Kalau berminat dengan hasil fotonya bisa kami ambil diluar.
Lalu perjalanan mengeksplorasi gua pun kami lanjutkan. Tampaknya Aik dan lala suka sekali dengan kejutan-kejutan baru, makanya Aik ribut aja mau lanjut terus. “Ini Eng (menakutkan Bun) tapi asik,” kata Lala dan Malik sepakat. Kadang kami melihat stalagtit besar yang bentuknya seperti anggur. Aik juga bilang dia melihat stalagmit yang bentuknya seperti pistol besar. “Aik takutnya stalagmitnya jatuh ke Aik. Aik juga takut Aik jatuh ke bawah,” kata Aik.

Dan yang paling spektakuler bagiku adalah ketika kami sampai pada sebuah square di dalam gua. Bayangkan sebuah square dengan kursi penonton dan panggung pertunjukan di dalam gua! Ya karena luasnya, akhirnya square itu dijadikan panggung pertunjukan flamenco. Tiap bulan Juli dan Agustus digelar pertunjukan flamenco dalam gua ini. Kursi merah tampak berjejer-jejer rapi menghadap panggung. Di atas panggung tampak beberapa orang sedang berlatih. Pasti mahal sekali menonton pertunjukan flamenco disini. Menonton flamenco dalam gua, dengan dekorasi stalagtit dan stalagmit betulan di sekitarnya, wah!
Setelah naik dan turun tangga beberapa menit, akhirnya kami bertemu dengan ‘column’ yang tercatat dalam guiness book of record. Subhanallah! Karya yang Maha Agung memang begitulah. Column itu seperti batang pohon raksasa yang menjulang dari atas ke bawah, Kami sempat berfoto disana. Kami juga bertemu dengan keluarga bule dengan dua pasang anak, seperti lala dan Malik. Anaknya yang kecil, sekira 4 tahun diminta ayahnya memfoto ayah dan ibunya. Lucu juga, mungkin orangtua itu sekalian ingin mengajarkan anaknya cara memakai foto. “Do you want me to take a picture for all of you?” Aku menawarkan diri dan mereka tak menolak.

Hampir dua jam kami berada dalam gua. Seperti biasa perjalanan kami lelet karena ayah si fotografer pemula masih coba-coba kamera melulu. Lalu aku juga harus sibuk cerita ke anak-anak tentang gua karena lala senang sekali diceritakan tentang gua ini.”Ada bagian dalam gua ini yang nggak boleh orang masuk La, karena masih ada scarab beetles and blind scorpions di sana.” Kalau aku berhenti bercerita, pasti Lala bilang,”cerita lagi Bun, cerita lagi Bun.” Waduh cerita apalagi ya, bacaan ku soal gua ini kan terbatas hehe.
Akhirnya, perjalanan kami mengeksplor gua selesai. Anak-anak tak tampak capek naik turun tangga, hebat! Mungkin karena pemandangan indah dalam gua yang memanja mata ya, jadi capeknya nggak terasa. Di luar panas udara terasa lagi, anak-anak minta main di speeltuin dulu. Waktu aku tanya apa yang paling Aik dan lala suka, Aik menjawab,” Aik paling seneng waktu teropong lukisan orang jaman purba yang gambar rusa.” Sedangkan Lala? “Mbak lala paling suka diceritain sama bunda tentang gambar-gambar orang jaman dulu di dinding gua. Mbak lala juga suka yang column 32 m itu, tapi mbak lala takut Bun. Terus mbak lala paling nggak suka kalo Aik minta buru-buru terus.”
Syukurlah, anak-anak cukup menikmati perjalanan ini, hampir nggak pernah rewel kecuali lapar, ngantuk dan capek. Dag gua! Kami harus pergi, kami mau liat Balcon de Europa. Semoga Aik dan lala dapat tambahan ilmu setelah melihat guamu ini ya!
lucu!