Wow! Ternyata Malaga kota yang cantik! Kota ini merupakan kota pelabuhan yang bersih dan terawat. Disana-sini banyak pohon palm yang membuat suasana jadi romantis. Aku tea si ‘palm lovers’, jadi betah bener memperhatikan kota ini. Pablo Picasso, sang pelukis terkenal lahir di kota ini. Di kota ini banyak terdapat museum, salah satunya museum Picasso tentu saja. Karena Malaga adalah kota di tepi laut, tapi juga dikelilingi gunung-gunung, maka cuaca di Malaga termasuk ‘the best weather’ di Eropa.

Setelah naik taksi keluar dari airport, taksi kami melewati jalanan lebar-lebar. Airport malaga terletak agak jauh dari pusat kota. Kami butuh waktu sekira dua puluh menit untuk sampai pusat kota. Dan menjelang sampai di pusat kota, jalanan macet! Tentu aja nggak semacet Jakarta, tapi lumayan membuat hawa yang panas jadi bertambah panas, berikut membuat mataku tak berhenti melirik argo taksi hehe. Deg-deg an juga takut harga taksi jadi melangit. Katanya sih taksi di Spain lebih murah daripada di Groningen. Ternyata memang betul, untuk jarak yang cukup jauh itu, kami ‘cuma’ harus membayar 13 euro. Di Groningen, naik taksi dari rumah ke central stasiun aja harus bayar 10 euro. Tapi sayangnya kami tetap harus nambah lagi 5 euro untuk tax airport. Jadi ya sami mawon mahale. Tapi demi ngejar liat Malaga ya sudahlah. Dalam perjalanan kaya begini budget memang harus ditambah dengan biaya tak terduga sebesar 10-20 % dari biaya total.
Supir taksi menurunkan kami persis di depan Alcazaba. Sayang, walaupun belum gelap, tapi jam sudah menunjukkan pukul 8.00 malam. Jadi untuk naik ke benteng menikmati kota Malaga dari atas sudah tak mungkin. Padahal katanya dari atas benteng kita bisa menyaksikan indahnya pantai malaga sekaligus kotanya. Pintu masuk untuk naik ke atas dan museum archeologi yang ada disana sudah ditutup. Kami hanya bisa menikmati Roman teater dan benteng-benteng dari bawah saja. Pemandangan dari roman teater pun lumayan cantik. Kami bisa memandang pedestrian street yang lebar dan indah di bawahnya. Ingin rasanya jalan di pedestrian street itu ke centrumnya. Aku kan penggemar pedestrian street juga
(Duh apa sih yang nggak aku gemari hehe). Tapi ya begitulah waktu kami benar-benar mepet. Tapi aku sempet mampir di toko souvenir yang ada di seberang Alcazaba. Walaupun harganya mahal-mahal, tapi ya gimana lagi, ga ada pilihan lain euy.

Lucunya, waktu sedang asik foto-foto, seorang perempuan paruh baya dengan baju rapi (memakai rok, sepatu dan membawa tas), persis seperti ibu-ibu yang mau belanja, menghampiri suamiku. Dengan suara parau dan bisik-bisik dia ngomong pake bahasa spanish. Tentu aja suamiku nggak ngerti. “Udah Yah cuekin aja,” kataku. Tapi suamiku tea, si sabar (cie ngapung deh idung suami gw
). Didengarkannya baik-baik omongan si ibu sampe selesai. Ujung-ujungnya suamiku paham bahwa si ibu ternyata minta duit! Aje gile! nggak ada tampang blas. Memang sih perempuan itu bukan bule, rambutnya item pula, tapi dandananya cukup rapi, makanya kami tertipu. Akhirnya suamiku pun mengeluarkan sekeping euro. Beres deh. Selain itu aku juga liat ada pasangan muda ciuman huebooh banget sambil duduk di depan tulisan Alcazaba. Ya ampuun apa nggak bisa di rumah ya ciuman selama itu! Tapi ‘golden oportunity’ deh, pelajaran berharga buat Aik dan Lala. Aku langsung bilang bahwa yang begitu ga usah diliat. Lala sih taat aturan banget, dia bener-bener ga mau liat hehe.
Balik ke cerita Alcazaba, bangunan ini dulunya merupakan benteng pertahanan militer yang dibuat oleh suku moorish pada abad ke-11 M. Sebelumnya di bawah benteng ini ada roman teater peninggalan sejarah Romawi. Rupanya dulu sekali, pada tahun 1000 SM, kaum phoenician lah yang menemukan kota Malaga. Lalu enam abad kemudian Romawi menguasai daerah ini. Sedangkan suku Moorish (yang memulai peradaban Islam di Eropa) datang pada abad ke-8 M. Malaga menjadi kota pertama yang dikuasai oleh kekhalifahan Cordoba pada masa itu. Saat itu Malaga disebut dengan ‘Malaqah’ dalam bahasa Arab. Katanya lagi bangunan ini terinspirasi dari Alhambra. Jadi di dalamnya ada benteng, taman yang indah, air mancur dan peninggalan kaum muslim seperti di Alhambra.

Memang sayang, kami betul-betul tak punya waktu lagi di kota ini. Kami harus segera naik bus ke Nerja jam 21.30. Kalau tidak, kami akan terlalu malam sampai di Nerja. Sebetulnya saat membuat jadwal perjalanan, aku ingin menambah satu hari lagi di kota ini, tapi berhubung nggak dapat jadwal pesawat yang pas, ya nggak bisa deh. Jadi lagi-lagi kami memanggil taksi untuk membawa kami ke bus stasiun. Naik bus dari Malaga ke Nerja hanya butuh waktu 1,5 jam saja dengan biaya 3,9 euro per orang. Memang nggak terlalu mahal, sebab, jarak Malaga-Nerja hanya 50 km saja. Karena itu juga lah aku mau singgah di Nerja.
Herannya, saat menunggu bus Malaga-Nerja, aku ketemu lagi sama pasangan laki-perempuan yang lagi ciuman. Kali ini ciumannya super duper hueboh! Perempuannya gemuk banget, laki-lakinya agak gemuk tapi ga seberapa. Sejak kami dateng jam 9.00 malam sampai menjelang berangkat jam 9.30 pasangan itu ciuman ga berenti! Gilaak! Kenapa siy ga dirumah aja, kan kalo horni bisa langsung dilanjut hehe. Sebel juga ngeliatnya, soalnya anak-anakku kan seliweran disitu. Kami sempet beli makan juga di cafe stasiun, jadi ngelewatin pasangan itu. Duuh kebangetan deh, perasaan di Groningen ga gini-gini amat. Menjelang bus datang, baru mereka pergi, huh mbok ya dari tadi hehe. Akhirnya bus kami pun datang.
Ketika bus yang membawa kami ke Nerja melewati daerah pantai Malaga, aku agak-agak menyesal.”Wuih kereen banget pantainya! Tau gitu kita ke pantai aja ya Yah, ga usah ke Alcazaba,” kataku pada suamiku. Ya, saat itu kami melewati pantai Malaga yang dipenuhi boulevard palm di sebelah kanan yang sungguh aduhai pemandanganya. Sedangkan disebelah kiri pemandangannya sangat kontras. Bangunan-bangunan di atas bukit termasuk Alcazaba memanja mata kami. Sungguh pemandangan yang tak biasa! Pantai dan bukit jadi satu! “Wah harus balik lagi ni Yah lain kali hehe.” Suamiku hanya tersenyum mengamini saja. Kami betul-betul terpesona dengan pemandangan singkat itu. Duh mampir di Malaga ini rasanya memang seperti makan makanan enak yang nyangkut di tenggorokan. Kami sungguh belum puas. Hingga akhirnya Malaga pun tak tampak lagi di mata kami. Ah Malaga, ternyata kamu cantik! Hopefully someday we meet again yaa…!