Persiapan
Liburan summer ke Spain kali ini sungguh berbeda. Kami seperti diperlihatkan dua kutub yang berlawanan. Kami melakukan perjalanan dengan rute: Groningen-Bremen-Malaga-Nerja-Granada-Cordoba-Madrid-Barcelona. Andalucia (Nerja, Malaga, Granada dan Cordoba) sungguh cantik. Di Cordoba dan Granada kami seperti melakukan sebuah pilgrimage yang mengharukan. Sementara Madrid dan barcelona seperti menawarkan kesenangan dunia yang entah berujung kemana.

Berhubung perjalanan kami bisa dibilang model ‘backpakker family’, jadi aku berusaha mempersiapkannya dengan baik. Sebab jalan-jalan dengan anak-anak sungguh berbeda dengan jalan dengan orang dewasa. Apalagi kami tea narsis hehe, jadi pasti jalannya lemot banget, sedangkan waktu kami terbatas. Belum lagi, kami juga ga pengen cuma sekedar liat tempat dan foto. Paling engga di tempat yang bersejarah, kami pengen merasakan sejarah hadir bersama kami ketika kami berada di tempat itu. Kami juga pengen anak-anak bisa belajar sesuatu dari perjalanan ini. Duile belagu amat yak hehe, tapi ya begitulah, setiap orang pasti punya tujuan berbeda dalam melakukan perjalanan bukan?
Jadi supaya dalam waktu singkat kami bisa tetap mengunjungi banyak tempat, banyak manfaat dan anak-anak juga enjoy, hampir dua mingguan aku ‘research’ kecil-kecilan soal Spain.Dari ‘research’ itu, aku mencari hotel yang murmer, ticket pesawat ryan air yang paling murah (karena harga ryan air bisa mulai dari 1 euro bo!), cari bus serta jadwalnya dari satu kota ke kota lain di Spain dan juga tempat-tempat yang berguna buat dikunjungi. Setelah itu aku bikin time table dan itenerary selama 10 hari perjalanan. Alhamdulillah perjalanan kali ini ga meleset jauh-jauh amat dari rencana yang sudah kami buat. Kesulitan dan hal-hal tak terduga disana sini tentu biasa.
Selama beberapa kali melakukan perjalanan, Allah pasti kasih kami bukan hanya yang senang-senang saja, tapi juga yang bete-betenya. Keseimbangan, sunatullah, hukum alam, begitu kata orang. Its oke bersenang-senang. Its oke mencari dunia seolah hidup kita masih akan seribu tahun lagi. Tapi jangan pernah lupakan Dia, seolah kita akan mati esok hari. Begitu kan kata teori. Kenyataannya? Wallahualam bissawab hehe. Sulit memang. Tapi keseimbangan-keseimbangan itulah biasanya yang mengingatkan kami untuk selalu kembali kepadaNya. Ia seperti ibu yang menjewer telinga kami, mengingatkan kami untuk kembali ke rel kalau kami kelewatan. Karena itu, kalau keseimbangan datang, syukuri ia, begitu selalu suamiku bilang.
From Groningen to Malaga
Kami berangkat dari CS groningen jam 9.45 ke Bremen naik bus-publicexpress (http://www.publicexpress.de/nl/). Hanya 2,5 jam saja kami sudah sampai di Bremen. Barang bawaan kami cukup komplit: 2 koper ukuran sedang, 2 baby buggy, 2 buah tas ransel dewasa dan 2 buah tas ransel anak-anak. Berhubung di Spain banyak seafood, jadi kali ini aku cuma bawa bekal nasi goreng untuk dua kali makan dan bawa gepuk beberapa puluh potong. Kami ga lupa dong bawa beras dan rice cooker. Sayangnya kami lupa bawa indomie ihiks, padahal indomie tuh makanan ternikmat sedunia kalo lagi di negeri orang kelaperan.

Sayangnya lagi, anak-anakku ndeso hehe, gara-gara ga pernah naik mobil, (naeknya sepeda melulu), jadi pas naek bis ke Bremen, anak-anak pada muntah ihiks. Baru setengah jam perjalanan Malik udah rewel dan ngeluh pusing, Lala juga. Satu jam kemudian, Malik muntah, ga lama Lala menyusul. Untung aku dah siap bawa plastik bungkus roti sebundel, dan memang ternyata plastik itu berguna banget. Bukan cuma buat nampung muntah di jalan, tapi juga buat nampung pipis malik kalo lagi kebelet di jalan dan susah cari wc hehe. Plastik itu juga berguna buat nampung batu-batuan. Yup, malik hobi banget ngumpulin batu yang dia temuin di jalan. Jadi plastik dan tissue basah, merupakan barang andalan kalau lagi jalan-jalan sama anak-anak begini.
Setelah muntah, anak-anak kembali ceria dan tidur lelap sampe Bremen. Tapi komentar lala dan malik langsung berbunyi gini,”Aku paling ga suka naik bus!” Hmm…
Jam 12.30 kami sampai di Airport Bremen, suasana masih lengang, petugasnya juga belum ada. Jam 13.30, petugas dan penumpang mulai bermunculan, ternyata penumpang rame buanget! Semua orang seperti keluar dari rumah untuk berlibur. Saat check ini, ‘Mr.problem’ mulai muncul. Ternyata barang-barang yang masuk bagasi ga boleh lebih dari 15 kg! OMG! Suamiku lupa kalo Ryan air memang memberlakukan kebijakan segitu, ga sama kaya pesawat lain, namanya juga pesawat murah. Wuah terpaksa deh kami mundur dan bongkar-bongkar. Tas anak-anak yang kecil-kecil pun diberdayakan.
Isi dua tas ransel terpaksa kami pindah ke tas anak-anak yang isinya buku jurnal dan mainan mereka. Tas mereka jadi full banget. Isi tas koper sebagian kami pindah ke tas ransel. Alhamdulillah..beres! Tas koper yang beratnya 21,6 kg berhasil jadi 15 kg. Kami pun akhirnya bisa melenggang masuk ruang tunggu pesawat.
Waktu barang-barang kami diperiksa oleh petugas, lala denger bahwa penumpang ga boleh bawa cairan ke dalam kabin pesawat. Lala lalu tanya terus,”Kenapa ga boleh bawa air?”. Ayahnya menjawab,”Karena dulu di London pernah ada orang bikin bom pake cairan La.” Pertanyaan selanjutnya bisa ditebak,”Gimana bikinnya?” Dan ayahnya pun lalu berusaha menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari lala.
Di ruang tunggu, antrian orang yang mau pergi ke Malaga seperti antrian orang ngambil jatah beras hehe penuh banget. Jam 14.55 kami boarding. Kami bisa lewat jalur priority untuk anak-anak dan orangtua, jadi ga perlu antri. Tapi herannya, pas pulang dari Barcelona-Breman, priority ini hanya berlaku untuk yang sudah melakukan reservasi. Padahal kami sudah antri panjang, huh! Tapi pengalaman berharga nih, jadi laen kali, biar aman mendingan reservasi dulu deh. Karena katanya peraturan berubah sejak satu tahun lalu.
Jam 15.25 pesawat dengan tujuan Bremen-Malaga itu berangkat. Aku duduk sama Lala. Lala sempet ketakutan di awal, apalagi pas liat gambar emergency landing. emergy oxygen dan life vest di depan tempat duduk. “Ayah ga boleh pake kacamata Bun,” katanya waktu liat gambar kacamata di coret. Setelah aku jelaskan bahwa ini kasus khusus dan aku minta dia berdoa ke Allah baru dia tenang.
Setelah ketakutannya hilang, saat mau take off dan landing lala malah jejeritan. “Aaagh..dit is leuk Malik (Ini asyik malik)! Ini kaya naik Achban (roller coster) Bun!” katanya senang.
Jam 18.40 kami tiba di Malaga airport. “Kenapa kalo sukses landing orang-orang tepuk tangan Bun?” tanya lala lagi. Orang-orang memang pada tepuk tangan saat landing berhasil tadi. “Berarti pilotnya pinter la, dan alhamdulillah berarti semua penumpang selamat.”
“Itu mobil ‘Follow me’! Misi Aik berhasil!” kata Aik senang. Anak-anak memang aku suruh bikin misi di tiap tempat yang aku kunjungi, supaya mereka ga bosen. Tapi Aik juga rewel karena telinganya mampet. “Kenapa telinga Aik ga enak?” tanyanya berkali-kali.

Kami baru selesai mengambil barang jam 18.30. Wuih Malaga betul-betul hot! Di ramalan cuaca kami liat Malaga hari ini 40 derjat C dan tampaknya memang begitu adanya. Aku berusaha mengisi botol aqua di air keran WC, tapi ya ampuun airnya ga enak banget! Aku batal minum deh, daripada sakit perut.Jangan-jangan air kran di Spain ga bisa diminum.
Keluar dari pintu airport, sesuai timetable yang sudah kubuat, kami mesti belok ke kanan dan menunggu bis no 19 ke Malaga. Katanya bayarnya hanya 0,95 cent euro/orang. Bis itu lewat tiap setengah jam. Sedangkan jam saat itu menunjukkan pukul 19.30 lewat. “Ya udah lewat kali bisnya! Yo wis naik taksi aja deh, ga akan ngejar kalo ga naek taksi,” kata suamiku. Kami cuma punya waktu sampai jam 21.30 di Malaga, sebelum naik bus ke Nerja. Malaga-Nerja memang hanya 1,5 jam perjalanan. Karena Nerja tampaknya di website sungguh cantik, maka aku pilih menjelajahi Nerja daripada Malaga.
“Taksii! antar kami ke Alcazaba Malaga ya!” Tapi sayangnya si supir asli ga bisa bahasa Inggris. Pake bahasa tarzan ga ngerti juga. Akhirnya kudu nunjukin gambar Alcazaba yang ada di buku jurnal lala. Baru deh si supir ngertei. Phfuih..akhirnya…Spain..here we are!