Hannoverian Elector and King melukiskan keindahan taman Perancis dan Inggris gaya baroque (abad 17-an) ke atas permadani 135 hektar Herrenhausen Garten. Jadilah empat taman dan botanical garden yang luas yaitu Grosser Garten, Georgengarten, Berggarten, dan Welfengarten.
![]() Grosser Garten |
Jika kita melihat dari angkasa, benar-benar kita seperti memandang permadani dengan motif yang indah membentang di taman itu. Dasar hijau dengan corak warna putih, kuning, merah, mengingatkanku pada ukiran kursi di ruang kepresidenan. Namun sayang saat itu hanya warna coklat dan pohon-pohon tanpa daun yang tertoreh.
Pucuk-pucuk muda masih malu-malu menampakkan dirinya di antara batang dan ranting. Mereka baru bersemi.Aku tidak ingin menghabiskan tiga puluh menit yang tersisa untuk menikmati taman itu. Pilihanku jatuh pada sebuah bangunan mirip kapal di sebelah kanan pintu masuk yang disebut Grotto. Ketika aku mengintip ke dalam melalui jendela, kulihat dinding yang penuh dengan kaca bermotif dan ornamen warna-warni. “Walaa… inikah salah satu karya Niki de Saint Phalle?” teriakku dalam hati. Aku baca di Lonely Planet ‘Germany’, salah satu kebanggaan Hannoverian adalah karya arsitek ornamen asal Perancis itu. Kejeniusannya mewarnai dinding dengan kaca ornamen sungguh khas. Jutaan pengunjung disedot ke dalam dunia dinding ornamen penuh warna yang luar biasa. Kalau anda pernah ke Wina, mungkin anda berpikiran sama dengan aku, karya ini mengingatkanku pada karya Hundertwasser.
Lala dan Malik bolak-balik dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain. Di bagian kiri dia melihat tanpa berkedip patung abstrak wanita khas Niki de Saint, berselimutkan kaca ornamen warna-warni. Ada ular, laba-laba, dan binatang-binatang lucu lainnya bergelantungan di dinding.
“Bunda, Aik mau nggambar,” kata Aik.
Setelah menerima buku notes kecil dan pena biru, dia berdiri di depan patung itu dan mulai menggambar. Pengunjung lalu lalang di sekitarnya tak mampu mengganggu keasyikan dan konsentrasinya. Rupanya dia telah menjadi tontonan tersendiri. Seorang nenek yang ingin tahu apa yang dikerjakan Aik pelan-pelan mendekat dari belakang. Tubuhnya membungkuk dan kepalanya maju ke depan mencuri pandang. Kemudian dia tersenyum dan berbicara kepada kami dengan bahasa planet.
Lala sendiri lebih senang dengan ruangan di sebelah kanan. Ada patung Nanas lain berbentuk gajah. Dia suka karena ada banyak air yang mancur dari badan si gajah.
![]() Nanas Gajah di Grotto |
Ketika aku menjelaskan kepada anak-anak, hampir-hampir tanganku menyentuh kaca ornamen. Seorang wanita dengan seragam biru mendekati kami dan segera melarang. Aku minta maaf dan melanjutkan cerita tentang karya Niki de Saint ini. Biasanya anak-anak mendapat imajinasi baru dari hal-hal yang dilihatnya. Penjelasan tentang detail kaca ornament itu, bagaimana membuatnya, bagaimana bisa menjadi indah akan sangat bagus buat imajinasi Lala dan Malik.“Are you from Malaysia?” tanya pentugas itu setelah aku selesai bercerita.
“No, we are from Indonesia,” jawabku.
Aku manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya lebih detail tentang karya satu-satunya wanita yang mendapatkan penghargaan Freedom of the City of Hannover. Apakah benar ini karya Niki de Saint yang terkenal itu? Sebuah pertanyaan pembuka untuk memenuhi keingintahuanku. Petugas kelahiran Hannover itu kemudian menjelaskan panjang lebar.
Niki de Saint Phalle mulai mendesain ornamen interior Grotto di Grosser Garten pada 1999. Dia sendiri juga yang memilih material seperti kaca dan batu-batuan untuk ditempel di dinding. Namun dia meninggal satu tahun sebelum karya ini selesai. Pada 2002 interior Grotto selesai dibangun. Melalui visi yang terbaca dari catatan dalam buku desainnya, para asisten Niki mempu melengkapi kekurangan.
Karya Niki lain yang sangat terkenal adalah Nanas di tepian sungai Leine. Dibangun pada 1974 karya kontroversial ini menerima banyak protes dari masyarakat Hannover. Karya seni yang aneh di ruang publik saat itu belum bisa diterima luas. Namun akhirnya Nanas menjadi maskot Hannover sebagai Kota Ekspo.
Nanas di tepi sungai Leine |
“You have to go there to see another work of Niki,” kata petugas itu.Sayang sekali, aku harus melanjutkan perjalanan ke Berlin. Jika aku sendirian, tentu akan aku kejar. Mengunjungi sebuah kota dan baru melihat bagunan yang terhampar ibarat melihat jeruk yang masih diselimuti kulit. Untuk merasakan manisnya jeruk, kulit itu harus dikupas. Kadang tidak mudah, karena kulitnya sangat lengket dan keras. Namun, perjuangan itu akan membuahkan hasil yang nikmat. Mengunjungi museum, mendengarkan cerita masa lalu, atau membaca buku tentang bangunan kebaggaan masyarakat Hannover adalah cara untuk menikmati perjalanan ini.
“Saya dulu pernah tinggal di Malaysia,” kata petugas itu. Ternyata dia bisa bahasa Malaysia. “Mulai tahun 1992 saya tinggal di Kuala Lumpur dua tahun kemudian di Borneo dua tahun. Saya menjadi pemandu turis untuk orang-orang Jerman,” lanjutnya.
“Lalu mengapa anda ke Hannover?” tanya saya dalam bahasa Inggris karena dia hanya sedikit bisa bahasa Malaysia.
“Tahun 1996 ibu saya sakit. Saya harus mengumpulkan uang tabungan untuk bisa beli tiket ke Jerman. Saya tidak mendapat banyak dari bekerja di Malaysia. Sampai di sini, saya tidak punya uang lagi untuk kembali ke sana. Akhirnya saya putuskan untuk bekerja di Hannover.”
“Apakah anda pernah ke Indonesia?”
“Itu lah lucunya. Saya empat tahun di Malaysia, tetapi belum pernah ke Indonesia. Suatu kali saya ingin ke sana. Manusia berubah, apalagi kalau sudah mulai tua seperti saya. Banyak pertimbangan dalam hidup ini yang mengarah pada perubahan. Sekarang saya di Hannover, mungkin suatu saat saya memilih tinggal di negara lain. Di Eropa Timur mungkin lebih enak. Biaya hidup lebih murah, tetapi lebih dekat dengan negara lain di Eropa. Saya juga suka Kanada, mungkin saya akan tinggal di sana kalau tua nanti.”
“Betul, Vancouver itu indah sekali,” kata saya teringat delapan tahun yang lalu mengunjungi kota itu seminggu. “Jika anda memilih tinggal di Asia, anda memilih negara mana?” tanyaku.
“Malaysia,” jawabnya. Kemudia dia menyanyikan sebuah syair lagu, “Malaysia.. my Malaysia..”
“Anda suka Malaysia ya?”
“Ada Malaysia dalam hati saya. Saya juga punya boy friend di sana. Namun teman hidup dan juga pendapatan menjadi pertimbangan untuk menentukan pilihan.”
“Semoga anda mendapatkan hidup yang bahagia di hari tua.”
Selalu ada yang menarik ketika bertemu dan berdialong dengan seseorang di tempat yang aku kunjungi.

