Mengapa keju utuh berbentuk bulat? Mengapa pula keju sering tampak berlubang-lubang? Bagaimana sih cara membuat keju? Betapa sering aku melihat dan memakan keju. Tapi apakah pertanyaan-pertanyaan di atas pernah terlintas di kepalaku? Aku kan tinggal di negeri keju, mestinya tahu dong. Ah, sayangnya tidak. Mana sempat aku memikirkan proses panjang makanan yang masuk ke mulutku. Saat makan bersama anak-anak yang ada di pikiranku hanya bagaimana caranya agar anak-anak bisa cepat selesai makan dan aku bisa segera beristirahat. Duh sayang, padahal mengetahui asal usul makanan mungkin bisa membuka mata hati anak-anakku tentang pentingnya sebuah proses dalam menjalani hidup ini. Untungnya, di kota Alkmaar ada museum keju. Museum memang tak semenarik mall, tapi taburan ilmu tersimpan disana. Karena itu lah aku, suami dan anak-anakku pergi mengunjunginya.
Museum keju terletak di pusat kota Alkmaar. Tepatnya ia berada di depan lapangan tempat atraksi pasar keju biasa digelar. Di lantai pertama terdapat toko souvenir yang sekaligus dijadikan kantor pusat informasi turis. Untuk masuk ke museum keju, kami harus naik ke lantai dua. Kami membayar ticket seharga 2,5 Euro untuk dewasa dan 1,5 Euro untuk anak-anak diatas 6 tahun. Dengan biaya sebesar itu kami mendapatkan sebuah brosur dan sebuah souvenir. Souvenir ini bisa dimakan lho. Ya namanya juga museum keju, apalagi souvenirnya kalau bukan sepotong keju.
Pemandangan pertama yang kami lihat di museum adalah seperangkat alat pembuat keju di masa lalu. Sebuah gentong besar untuk menampung susu teronggok di sebuah sudut. Gentong itu serupa bak mandi besar berbentuk bulat dan terbuat dari kayu. Di sebelah si gentong terdapat TV yang mempunyai banyak tombol. Dengan memencet salah satu tombolnya aku bisa memilih mau menonton TV dengan bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Portugis atau bahasa Cina. Aik bolak-balik memencet tombol-tombol itu. Baru saja kami melihat proses pembuatan keju di masa lalu dengan berbahasa Inggris, Malik sudah menggantinya dengan bahasa Belanda. Tak lama ia menggantinya lagi dengan bahasa Cina. Tombol-tombol yang bisa berubah bahasa itu lebih menarik baginya daripada informasi yang ada dalam TV.
Akhirnya Malik mau juga menonton dengan bahasa Inggris, asalkan ayahnya mau menterjemahkan. Film dokumenter itu masih hitam putih. Suamiku pun menjelaskan pada anak-anakku tentang proses pembuatan keju jaman dulu persis seperti cerita yang ada dalam TV. “Dulu, susu-susu sapi itu diangkut pake perahu Ik. Lalu kaleng-kaleng besar susu itu dibawa ke rumah atau pabrik kejunya. Nah susu sapi itu dimasukkin ke dalam bak besar yang kayak bak kayu di sebelah ini. Tapi sebelumnya susu itu dipanaskan dulu supaya kuman-kumannya pada mati. Terus sama orang yang bikin dikasih renet sama lactic acid (asam laktat). Habis itu baknya ditutup, ditinggal makan bersama tuh lihat. Selesai makan, kira-kira 30 menit, apa yang terjadi ya? Oh…lihat susunya menggumpal ya. Setelah itu diaduk-aduk, disaring, dimasukkan ke alat penekan, terus dibiarin, dan jadilah keju.” Begitu penjelasan sederhana dari suamiku kepada anak-anak.
Puas menonton tayangan cara membuat keju, kami berjalan lagi. “Hei lihat ini lho yang namanya renet.” Aku mengangkat Aik dan Lala agar mereka bisa melihat renet yang terletak tinggi di dalam lemari kaca. “Renet itu asalnya dari lambung anak sapi La. Itu lho yang tadi ditetesin ke susu, biar susunya menggumpal. Itu contoh lambung sapi yang sudah diawetkan tuh, kelihatan kan. Nah yang ini asam laktat nih, tadi juga ditetesin ke susu biar keju lebih tahan lama dan punya rasa yang enak.” Tanganku menunjuk-nunjuk benda-benda yang kumaksud.
Setelah didiamkan, sebetulnya susu yang telah menggumpal tadi terus diaduk-aduk memakai pengaduk seperti garpu besar berjari banyak. Hasilnya akan terbentuk ‘curd’, butiran putih kecil, dan ‘whey’ yaitu cairan sisa yang hanya berfungsi seperti taksi— sebagai pengantar. Curd akan disaring dan diletakkan dalam kain putih. Sekilas curd yang telah disaring ini mirip ampas tahu. Curd dalam kain putih lalu dimasukkan ke dalam alat penekan berbentuk buah kelapa yang telah dipangkas bagian atasnya. Kemudian alat penekan bekerja dan memeras curd sehingga akan terbentuk keju yang keras. Semakin lama proses pematangan keju, semakin lama pula ketahanan keju. Alat penekan keju masa lalu mempunyai bentuk beragam. Ada yang disertai ukiran dan terbuat dari logam, mungkin pemiliknya orang-orang kaya. Ada pula penekan keju yang terbuat dari kayu. Oya, setelah matang keju-keju itu kadang sering tampak berlubang, kenapa ya? Ternyata lubang-lubang itu disebabkan oleh bakteri asam laktat yang muncul saat proses pematangan keju. Tapi mereka bakteri baik koq, jadi tidak berbahaya.
Anak-anakku berhamburan melihat satu alat ke alat lainnya dengan tak sabar. “Bunda, liat ke sebelah sini Bunda, yang ini belum.” Lala mengajakku melihat lukisan-lukisan orang Belanda pada abad ke-17 yang sedang membuat keju. Di sebelahnya, tampak pula gaun perempuan Heillo dan Gouda tahun 1600. Gaun-gaun anggun bernuansa hitam polos yang ditaburi sedikit warna merah itu membalut tubuh manequin perempuan Belanda. Agar tak rusak, gaun-gaun di pajang dalam sangkar kaca seperti di butik mahal. Hmm…baju-baju mereka jaman dulu betul-betul tertutup. Layaknya baju muslim saja, hanya tangan dan ujung kaki yang terlihat. Sedangkan sekarang? Dalam cuaca indah begini, kadang hanya baju dalam yang menutupi tubuh perempuan Belanda modern. Ah dunia, semakin maju dirimu mengapa tak lagi kau sisakan rasa malu.
“Bunda…kesini, liat ini Bun…” Aik mengajakku melihat alat pemompa susu sapi. Alat itu berbentuk tabung susu besar dengan selang menjuntai dari bagian bawah tabung. Pipa kecil untuk menghisap terpasang di bagian ujung selang. “Aik mau difoto disini Ayah,” katanya sambil bergaya di depan sang tabung. Di sebelah alat pemompa susu sapi itu juga terdapat TV. Kami pun mengambil kursi dan duduk di depan TV. Lumayan, hitung-hitung mengistirahatkan kaki. “Tuh lihat Ik, jaman dulu orang meres susu sapi pake tangan, belum pake alat kayak itu.” Aik hanya melongo melihat sapi-sapi berkulit hitam putih dalam layar kaca itu.
Dari brosur yang aku baca, sapi bercorak hitam putih di Belanda ternyata lebih banyak menghasilkan susu daripada yang berbintik coklat. Sapi-sapi itu bisa menghasilkan 20 liter susu per hari. Dan untuk menghasilkan 1 kg keju merek Gouda dibutuhkan 10 liter susu. Sekira 1,5 juta sapi bercorak hitam putih ini dikembangbiakkan di Belanda. Otot dan daging sapi jenis ini pun lebih banyak. Mengapa souvenir berbentuk sapi dari Belanda selalu bergambar sapi hitam putih? Barangkali kelebihan si sapi hitam putih itu lah penyebabnya.
“Yaa, ternyata kalau meres susunya pake tangan, satu jam cuma bisa memeras 2 atau 3 sapi. Nah kalo meresnya pake alat pompa, satu jam bisa meres 7 sampe 10 sapi. Tuh lihat kebersihannya betul-betul dijaga, jadi setiap habis diperes orangnya ngelap putting susunya pake handuk bersih.Oh tapi alat pompa itu ternyata udah kuno. Wah jaman sekarang meres susunya udah pake robot, langsung dicatat komputer lagi Hebat!.” Aku berdecak kagum melihat kecanggihan robot pemeras susu dalam tayangan TV itu. Norak!
“Mbak Lala liat tuh Mbak, sapinya disuruh masuk ke dalam kandang pemeras susu. Sambil dikasih makan, robotnya langsung kerja meras susu sapi. Dia bisa mencari putting susu sapi yang belum diperas dan otomatis alat penghisapnya nempel di putting itu. Robotnya juga pinter ya, tahu kebersihan. Sesudah memeras satu putting, si robot selalu mengucurkan air untuk membersihkan handuk bekas pengelap putting itu. Hebat ya, satu jam bisa meres 50 sampe 70 sapi kalo pake robot. “ Panjang lebar kuterjemahkan teks yang aku baca dari layar kaca.
“Di Indonesia kayaknya baru tahap memeras susu sapi pake tangan sama pake alat pompa sederhana itu deh Ma,” ucap suamiku. “Wah ketinggalan peradaban dong ya negara kita hehe.” Di kepalaku tiba-tiba muncul rumah saudaraku di pelosok dusun di Indonesia. Terakhir kali aku kesana sudah masuk abad 21, tapi rumah itu masih dihuni manusia beserta sapi ternaknya. Bayangkan di abad 21, saudaraku itu masih serumah dengan sapi! Duh, negeriku, selalu pilu tapi rindu bila mengingatmu.
Dari TV- TV lain yang terletak di berbagai sudut, kami juga menonton cara pembuatan keju jaman sekarang. Semuanya sudah serba robot. Susu-susu sapi dimasukkan dalam tank sangat besar setinggi gedung bertingkat tiga. Lalu susu-susu itu dikirim ke pabrik-pabrik keju, dipanaskan dan diproses dengan alat sedemikian canggih sehingga menghasilkan keju. Wow tentu semua peralatan ini sangat mahal. Kami juga melihat contoh laboratorium mini kuno. Alat-alatnya persis sama seperti saat aku praktikum kimia medik di jalan Dago dulu. Dan lagi-lagi kami melihat TV di sebelah laboratorium mini itu. Gambar para peneliti sedang bekerja di laboratorium masa lalu dan masa kini tampak di layar kaca. Lalu sekelompok pria berbaju putih berdiskusi mengelilingi meja, melihat dan mencicipi kualitas keju.
Hmm…menghasilkan sebuah keju berkualitas ternyata membutuhkan proses panjang, sedemikian mahal, teliti dan rumit. Hampir 2 jam kami menikmati museum yang tak terlalu besar itu. Capek. Tapi, sebelum keluar museum, foto dulu dong sama keju Gouda. “Keju Gouda adalah keju terbaik di negeri Belanda, selain keju Edam. Gouda itu nama daerah di dekat Deenhag. Dari kota kecil itu lah keju produk Gouda berasal,” kata ibu tua penjaga museum. Ibu itu tersenyum ketar-ketir melihat Malik yang berfoto ala Samson mengangkat keju di atas kepalanya. “Aduuh…kalau si keju dari kayu itu jatuh dan pecah gimana,” begitu barangkali batin si ibu.
“Jadi sekarang Ayah sudah tahu kan mengapa keju utuh berbentuk bulat?” tanyaku iseng pada suamiku. “Supaya gampang dikemas kan,” jawabnya singkat. “Kurang lengkap Ayah. Dulu kaum lelaki bekerja keras di peternakan, sedangkan yang bikin keju kaum perempuan di rumah. Jadi supaya meringankan pekerjaan mereka, keju dibuat bulat seperti roda, biar mudah digelindingkan. Nggak berat nggangkatnya gitu Yah. Hasil dari baca buku tentang keju seharga 2 Euro di pasar keju nih Yah,” jawabku berlagak pintar. “Sekarang udah tahu kan Lala sama Malik gimana caranya bikin keju?” Pertanyaanku beralih kepada dua buah hatiku. Mereka Cuma mengangguk lemah.
Dibalik keceriaan dan pendar mata yang selalu ingin tahu ada kelelahan disana. Namun semoga secuil ilmu tentang proses pembuatan keju yang mereka lihat dan dengar ini menempel di kepala mereka. Sungguh, tak ada yang instant di dunia ini anakku. Jangan tiru orang-orang di negeri kita yang kerap tak bisa menghargai proses. Pelajar bermoto yang penting lulus. Pejabat berijazah palsu yang ingin cepat naik pangkat. Duh negeriku, andai kau tahu betapa berharganya sebuah proses. Proses itu lah yang akan menghasilkan orang-orang bermutu, seperti keju berkualitas nomor satu.