Setiap hari Jumat, lapangan di depan bangunan kuno di pusat kota Alkmaar menjadi serupa magnet. Ia menyedot perhatian pengunjung. Orang-orang yang turun dari stasiun kereta api Alkmaar, umumnya segera menengok ke kanan dan ke kiri mencari peta. Mereka menunjuk-nunjuk tempat yang sama, dan akhirnya pergi ke arah yang sama pula, termasuk aku, suami dan anak-anakku. Kemana lagi kalau bukan ke pusat magnet itu, pasar keju.
Kami berusaha menerobos kerumunan massa, yang menumpuk di pinggir-pinggir pagar besi. Pagar yang mengelilingi lapangan luas itu setinggi pinggang orang dewasa. Aku berjinjit agar bisa melihat lebih tinggi, tapi tak mungkin aku mengalahkan orang-orang bulai yang menjulang itu. Kami mencari tempat di sudut lain yang lebih lapang. Apa sih yang membuat orang-orang berjejal melihat isi lapangan ini? Oh, tumpukan benda-benda bulat pipih berwarna kuning memenuhi lapangan. Benda itu seukuran bantal kursi bulat. Ada juga yang seukuran buah kelapa. Dia lah si keju yang menjadi aktor utama dalam tontonan ini. Pemeran pembantunya adalah para lelaki yang berbaju putih dan bertopi koboi. Topinya warna-warni ada yang merah, kuning, hijau dan biru. Mereka biasa disebut kaaszetters.
Di ruang penimbangan yang letaknya menjadi satu dengan bangunan kuno itu, pemberat dari besi seukuran ember kecil hingga ember besar digunakan untuk menakar keju. Timbangannya antik seperti timbangan untuk menakar berat obat sewaktu aku belajar farmakologi dulu. Tapi timbangan ini raksasa. Alas timbangan di kiri kanannya bahkan bisa mengangkut beberapa manusia. Setelah ditimbang, para keju siap diangkut ke gerobak besar di tengah lapang. Alat pengangkut keju ini unik. Ia terbuat dari kayu. Bentuknya mirip kereta luncur yang sering dipakai anak-anak saat musim salju. Dua orang kaaszetters bertopi merah berdiri di depan dan dibelakang alat angkut itu. Seutas tali membelit di bagian paling ujung kanan kiri kayu. Tali itu dibuat melingkar agar bisa dicangklong. Seperti membawa tas ransel, kedua lelaki berbaju putih tadi melingkarkan tali di bahu dan berjalan membawa para keju. Saat para kaaszetters berjalan mengangkutnya, keju-keju itu bergerak naik turun seperti sedang naik ayunan kayu.
Itulah atraksi yang dimainkan oleh para pemain di pasar keju. Sebuah tradisi yang dimulai sejak ratusan tahun lalu dan kini tetap dipertahankan untuk menarik turis asing. Seorang wanita membawa pengeras suara dan menjelaskan ritual tradisi itu dari tengah lapang. Wanita-wanita muda berpakhaian khas Belanda seperti yang ada di gambar kaleng susu berjalan mengelilingi lapangan menjajakan buku. Dengan membayar 2 Euro, aku bisa mendapatkan informasi soal tradisi dan sejarah pasar keju dari buku itu.
“Ah, saai (boring)…” Lala mulai mengomel. Atraksi yang diulang-ulang seperti ini memang membosankan untuk anak-anak. “Aik mau makan keju…Aik mau makan keju…” Aik mulai menyanyikan lagu aneh. Sejak kapan dia suka makan keju? Selagi memasak dengan tambahan keju, aku selalu mengaduk-aduknya dengan makanan lain untuk menyamarkan bentuk aslinya. Anak-anakku tak pernah suka makan keju utuh. Pasti ini nyanyian kelaparan dari Aik. Ini memang sudah waktunya makan siang. Cerita semenarik apapun tak akan mampu mereka serap dalam keadaan rewel begini.
Kami pun segera beranjak membeli kentang goreng dan es krim untuk mengganjal perut. Hei ada orang berbaju khas Belanda berjualan pancake, makanan khas Belanda! Aku harus mencobanya. Di pinggir lapangan memang berjejer lapak-lapak para pedagang kaget yang menjual aneka jajanan dan souvenir khas Belanda. Kios pedagang keju tentu saja ada. Keju-keju itu dijual dengan berbagai rasa, paprika, bawang putih, bahkan keju rasa kacang!
Musim semi kali ini berbeda, cuaca begitu bersahabat. Suhu nyaris sama dengan kota Bandung, 24 derajat celcius. Jam 12.30 siang, atraksi selesai. Semua keju diangkut dengan mobil box. Pagar-pagar besi itu pun dilipat dan dimasukkan ke dalam ruang penimbangan. Sekejap, lapangan penuh tumpukan keju berubah menjadi jejeran kursi dan meja. Dengan cuaca cerah seperti ini, café di lapangan terbuka menjadi pilihan menarik untuk para bulai. Mengisi perut sambil memanggang kulit agar tidak tampak pucat, itu lah yang mereka lakukan. Dengan baju yukensi, pusar tampak disana-sini, para wanita bulai itu memilih duduk di bawah panas matahari. Kegiatan yang pantang dilakukan bagi umumnya wanita Indonesia. Akhirnya setelah perut kami ganjal, kami pun masuk dalam museum keju. Satu hal yang kudapatkan dari atraksi keju ini, keunikan masa lalu yang dilestarikan pasti akan berbuah. Sejarah menjadi begitu mahal harganya sehingga menyedot manusia dari mana-mana datang untuk melihatnya!