Berpose di tengah jalan besar dengan mobil berseliweran di kanan kiri? Hmm seru deh. Malam itu kami nekat melakukannya. Anak-anak pun kami bela-belain ditinggal di pinggir jalan. Tapi tentu saja masih eye catching. Setelah berkeliling seharian hingga menunggu gelap karena ingin melihat Champs-Elysees dan Eiffel di tengah malam, akhirnya pemandangan yang luar biasa cantik itu kami lihat juga.

Arc de Triomphe dari Champs-Elysees
Di buku ‘Insight Guide Paris’ Champs-Elysees ini disebut sebagai ‘the world’s most famous avenue’. Apalagi di depan Arc de Triomphe waktu malam, dengan cahaya lampu disana-sini. Wow keren abis deh bahasa gaulnya
. Karena itulah kami nekat pergi kesana, walau harus menunggu malam. Musim semi begini, hari baru gelap sekira pukul 10 malam kan. Jadi anak-anak yang saltum (salah kostum) pun terpaksa dikerubuti sarung. Masalahnya kami tak membawakan jacket tebal maupun selimut untuk mereka.


Terlantar di pinggir jalan dengan kostum sarungChamps-Elysees merupakan jalan raya besar dari Arc de Triomphe hingga Place de La Concorde. Dulunya, daerah ini terkenal sebagai tempat pemukiman elit kelas atas. Hingga kini, keindahannya tak pernah pudar. Hanya saja, tempat pemukiman elit tersebut sekarang telah berganti menjadi toko-toko mewah elegan, restoran terkenal, teater dan kantor-kantor penerbangan penting. Kawasan ini pun tetap ramai hingga tengah malam karena toko-toko disini diperkenankan buka hingga menjelang dini hari.
Arc de Triomphee lain lagi ceritanya. Gerbang kemenangan ini dibuat pada jaman Napoleon berkuasa di tahun 1806. Di bagian atas salah satu sisi gerbang kemenangan tersebut terdapat relief yang menggambarkan tentang kemenangan Napoleon. Sayangnya hingga ajal menjemputnya, bangunan ini belum selesai dibuat. Hanya jenazahnya saja yang berkesempatan melewati bangunan ini, saat mayatnya hendak dimakamkan ulang di Les Invalides pada tahun 1840. Manusia memang bisa saja menjadi paling berkuasa di dunia dan bisa saja menginginkan segalanya. Tapi Allah juga yang akhirnya punya Kuasa bukan?

Arc de Triomphe di siang hariKabarnya pemandangan dari puncak Arc de triomphe pun tak kalah cantiknya. Namun sayang, karena keterbatasan waktu, kami tak sempat menyaksikannya. Setelah puas menikmati Arc de Triomphe dari Champs-Elysees, kami langsung naik metro ke arah Trocadero untuk melihat Eiffel dari Palais de Chaillot. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Anak-anak pun sebetulnya sudah kedinginan. Apalagi Malik mengeluh sakit perut karena mencret 2 kali. Wah, tapi sudah kadung begini mau bagaimana lagi. Akhirnya tetap saja nekat menikmati Eiffel sejenak di malam hari.
Untungnya walaupun mengeluh kedinginan, Lala tetap senang berada di sana. Apalagi saat kerlap-kerlip Eiffel dinyalakan. Mulutnya ternganga sambil berkata “Wow…leuk (bagus)…” he he lucu sekali tampangnya ketika itu, betul-betul tampang takjub. Alhamdulillah setelah buang air besar 2 kali, Malik pun tak mengeluh sakit perut lagi. Jadilah kami berfoto ria disana. Ah…tak sia-sia rasanya pengorbanan kami. Eiffel dan pemandangan kota Paris di sekitarnya tampak indah sekali di malam hari. Pantas saja banyak film dibuat di tempat ini, mulai dari film-film romantis sampai film-film heroik seperti Superman dan James bond yang sangat terkenal.

Saking takjubnya, Lala jadi mau foto sambil bawa balon bunga dehItu tadi sekelumit cerita tentang perjalanan di penghujung Minggu malam. Sebetulnya kami telah berkeliling sejak jam 10 pagi. Kawan-kawan deGromiest sudah kembali ke Groningen sejak Minggu sore. Pukul 11.00 siang mereka telah check out dari hotel. Sejak keluar dari hotel, kami bermaksud ingin melihat Ile de La Cite yang katanya tampak menawan dari atas cafe di pertokoan Samaritane. Tapi akhirnya kami nyasar di Forum Des Hales.
Forum des Hales merupakan kompleks pertokoan tertua di Paris.