Ada apa dengan Eiffel? Mengapa menara Eiffel dijadikan simbol kota Paris? Begitu pertanyaan yang terlontar dari mulut kami ketika menyaksikan turis-turis dari berbagai negara menyemut di taman hijau Champs-de-Mars–kawasan hijau di bawah menara Eiffel. Antrian untuk naik ke menara Eiffel pun begitu panjang. Dari arah mana saja mata memandang, menara Eiffel memang tampak mempesona. Tak kurang dari 6 juta orang mengunjungi tempat ini setiap tahunnya. Apalagi dengan taman klasik dan rumput hijau yang terbentang dari menara Eiffel hingga sekolah militer, semua membuat kawasan tersebut terlihat semakin indah. Taman klasik ini dihiasi boulevard dengan pohon-pohon yang tertata apik berbentuk persegi panjang. Dari sisi lainnya, sungai Seine terbentang, membelah jalan antara menara Eiffel dengan Palais de Chaillot. Menara Eiffel berdiri kokoh bagaikan raksasa kehausan yang ingin melepas dahaga sejenak di sungai Seine. 
Kemegahan menara yang mulai dibangun tahun 1887 dan selesai tahun 1889 pada saat revolusi industri ini merupakan bukti kejeniusan manusia pada masanya. Bangunan kuno nan megah disekitarnya–yang menyimbolkan masa lampau–terkalahkan oleh ketinggian menara Eiffel yang merupakan bangunan modern. Menara ini seolah ingin menyongsong masa depan dan membuktikan pencapaian yang telah dilakukan manusia. Barangkali karena itulah menara ini kemudian dijadikan simbol kota Paris.

Kami menikmati pemandangan cantik tersebut dari Palais de Chaillot. Sebelum ke tempat ini, sebetulnya kami sempat mampir ke Arc de Triomphe bersama rombongan. Namun karena kawan-kawan tidak ingin mampir ke Palais de Chaillot, akhirnya kami berpisah dari rombongan. Tempat yang dibangun pada tahun 1937 ini, teras utamanya membelah kedua paviliun di kanan kiri, bagaikan sepasang lengan. Paviliun tersebut kini digunakan sebagai museum. Di salah satu museum tersebut, museum angkatan laut, terdapat kapal yang membawa jenazah Napoleon dari St Helena. Dari teras Palais de Chaillot juga terdapat tangga-tangga turun ke arah sungai Seine, dengan taman indah berhiaskan air mancur dan patung-patung dengan ukiran-ukiran yang unik.

Gerbang Kemenangan, Arc de TriompheSetelah puas menikmati Eiffel dari kejauhan, kami berjalan mendekati menara Eiffel sambil menikmati taman yang terbentang di depan Palais de Chaillot tadi. Dari jembatan yang membelah sungai Seine, kami berhenti sejenak untuk melihat kapal-kapal yang berseliweran membawa turis yang ingin menyaksikan kota Paris lewat sungai Seine. Kami pun tak ketinggalan menaiki kapal penumpang tersebut dan berkeliling sungai Seine sekira 1 jam.

Palais de ChaillotSaat antri membeli ticket, kami melihat kejadian yang cukup mengagetkan. Seorang turis yang hendak naik kapal tampaknya terkena serangan jantung. Polisi dan petugas kesehatan berseliweran menjaga tempat tersebut, dan mencoba menyelamatkan turis gemuk tadi dengan alat pacu jantung. Peralatan yang dipakai begitu lengkap, dan sepertinya sempat juga dilakukan EKG ditempat. Namun sayang, turis tersebut gagal diselamatkan dan sang istri pun menangis sesenggukan. Selain menyaksikan betapa sigapnya petugas kesehatan setempat, kejadian itu juga menjadi sentilan bagi kami untuk selalu ingat padaNya kapanpun. Disaat sedang pelesir seperti ini, orang malah terbuai dan sering lupa bukan?

Notre Dame tampak dari kapalDengan biaya 9,5 euro untuk dewasa dan 4,5 euro untuk anak-anak, kami melihat bangunan-bangunan megah kuno sepanjang sungai Seine dari atas kapal. Pemandu wisata di dalam kapal menjelaskan bangunan-bangunan dan pemandangan yang tampak mulai dari left bank dan right bank. Terdapat 24 jembatan–dengan keunikan masing-masing jembatan– yang menghubungkan sisi kanan dan kiri sungai Seine. Ada jembatan yang disebut jembatan yang paling romantis, Pont Neuf yang artinya jembatan baru tapi sebetulnya merupakan jembatan tertua di Paris, ada pula jembatan yang bernama Pont Alexandre III dengan patung-patung unik bertengger di sepanjang jembatan tersebut.
Pukul 4 sore, usai menikmati Paris dengan kapal, kami beristirahat sejenak di bawah menara Eiffel sambil menunggu Lala dan Malik yang menikmati es krim berbentuk lucu. Bunda sempat kaget karena tiba-tiba seorang wanita berkerudung datang menghampiri dan bertanya “Do you speak English?” Lalu setelah bunda mengangguk, perempuan muda tadi menunjukkan secarik kertas dan menyuruh bunda membacanya. Oh… ternyata begini model pengemis di Paris. Di kertas yang ditulis dengan bahasa Inggris itu dijelaskan bahwa dia berasal dari Bosnia, sudah kehilangan orangtua, dan butuh uang untuk makan. Well, tadinya bunda menolak, karena tampaknya perempuan muda gemuk itu baik-baik saja. Tapi karena dia menghiba, dan bunda tak mau pusing, keluar juga 50 cent euro dari kantong akhirnya. Hmm lucu juga modus operandi pengemis yang digunakan di Paris ini
.

Antrian yang panjang di bawah eiffelSebetulnya kami penasaran juga ingin naik ke puncak menara Eiffel. Apalagi Malik pun merengek meminta untuk naik ke atas. Tapi karena antrian yang begitu panjang dan biayanya pun cukup lumayan (10,5 euro per orang dewasa), jadilah kami memutuskan untuk menikmati Eiffel dari bawah saja. Sebagai pengganti keinginan Malik yang tetap bersikukuh ingin naik ke puncak Eiffel, ayah mengajak main sapi-sapian dan berkejar-kejaran di taman hijau itu. Selain itu, Malik dan Lala pun sempat ikut balap mobil-mobilan yang tersedia di pinggir taman. Dengan membayar 1,5 Euro, mereka boleh memilih mobil balap atau motor, kemudian berkelililing area sebanyak 7 putaran.

Main sapi-sapian di kawasan hijau Eiffel

Main balap mobil di kawasan hijau jugaPerjalanan kami lanjutkan dengan melihat sekolah militer tempat Napoleon dulu bersekolah. Kemudian kami pun berjalan menuju Les Invalides. Di kompleks yang luas ini terdapat dome(kubah) invalides dari gereja St Louis, dan hotel des Invalides. Di depan taman hotel ini ada deretan meriam dari abad XVII dan XVIII. Kubah invalides yang berwarna keemasan tampak menjulang megah dari kejauhan. Di dalam kubah ini lah, di ruang bawah tanahnya, terdapat nisan Napoleon. Napoleon Bonaparte meninggal di St Helena pada tanggal 5 Mei 1821. Setelah 7 tahun kemudian barulah orang Prancis mendapatkan ijin dari pemerintah Inggris untuk membawa jenazahnya ke Perancis.

Sekolah militernya Napoleon

Les Invalides
Sayangnya kami tidak sempat masuk ke dalamnya, juga ke dalam hotel des Invalides karena jam buka ternyata hanya sampai pukul 18.45. Hotel des Invalides yang kini dijadikan sebagai museum, di masa lalu merupakan tempat peristirahatan bekas tentara yang sudah tua dan cacat–yang pada masa itu terpaksa menjadi pengemis untuk bisa bertahan hidup.
“Prit…prit..prit…” bunda kaget sekali sewaktu peluit bertiup keras ke arah kami yang sedang mengambil foto. Ternyata, peluit itu teguran buat kami yang tetap keukeuh mengambil foto saat museum sudah hampir tutup. Untung kami tidak sendirian, turis lain pun sama-sama kena semprit karena membandel hehe.
Walaupun kaki sudah cukup lelah, kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan ke La Place de La Concorde. Di jama revolusi, kawasan ini pernah dijadikan lapangan untuk memenggal kepala orang (guillotine). Raja Louis XVI dan permaisurinya Marie Antoinette pun dipenggal lehernya di tempat ini pada bulan Januari 1793. Dua tahun kemudian, pada tahun 1795, barulah kemudian tempat ini dijadikan Place de La Concorde.

Obeliks dari Mesir

Air mancur di sisi kanan-kiri Obeliks
Di tengah-tengah lapangannya terdapat obeliks Mesir. Obeliks ini diberikan pada tahun 1829 sebagai hadiah dari Mesir kepada Louis Philipe (Charles X). Dan ternyata diibutuhkan waktu 4 tahun untuk membawa obeliks ini dari Mesir ke Paris. Di setiap sisi obeliks terdapat tulisan hieroglif yang menggambarkan kebajikan Ramses II sebagai pharaoh Mesir. Sedangkan dikedua sisi lainnya terdapat gambar-gambar bagaimana obeliks ini diletakkan di lapangan tersebut. Selain itu, agak jauh di sebelah kanan kiri obeliks mesir juga terdapat 2 buah air mancur yang dipercaya kerap menghadirkan suasana magis.

Gerbang Kemenangan tampak dari Obeliks
Di masanya, kota Paris tampaknya telah diatur dengan demikian apik. Jalan-jalan besar terbentang tanpa kemacetan dengan boulevard di sepanjang sisi-sisi jalan. Obeliks berada di tengah antara Arc de Triomphe dan Louvre. Bila kita memandang lurus dari arah Obeliks, akan tampak kemegahan Arc de Triomphe dengan pohon-pohon berbentuk persegi panjang di kanan kirnya. Sedangkan dari arah sebaliknya, Louvre yang dulunya merupakan istana Napoleon pun tampak berdiri megah. Sungguh merupakan karya masa lampau yang mengagumkan.
Hmm… capek juga perjalanan seharian ini. Sambil berjalan ke arah metro terdekat, kami sempat berfoto sejenak di depan La Madeleine, sebuah tempat pemujaan bergaya Yunani di tengah-tengah Paris. Mulanya Napoleon menghendaki tempat ini dijadikan monumen bagi Great Army. Lalu pada tahun 1814, bangunan ini dijadikan gereja yang dipersembahkan bagi St. Mary Magdalena.

Bangunan Yunani Klasik di tengah kota Paris
Tak terasa, malam telah menjelang, kami pun segera naik metro ke arah Noisy Champ. Oh, ternyata kami baru tiba di hotel pukul 23.30. Perjalanan panjang sejak pukul 9 pagi yang cukup melelahkan namun membawa kepuasan tersendiri.