“Belum ke Eropa namanya kalau belum pergi ke Paris” begitu kata sebagian orang. Paris begitu megah dan menawan. Tak heran bila banyak mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negari Belanda selalu ingin menyempatkan diri untuk mengunjungi kota Paris. Kebetulan, kali ini deGromiest (perkumpulan masyarakat Muslim di Groningen) mengadakan acara liburan bersama ke kota Paris. Kami pun tak ketinggalan menjadi peserta. Rombongan deGromiest berangkat pada tanggal 5 Mei 2005 dan pulang ke Groningen tanggal 8 Mei 2005. Tapi, karena kami merasa waktu 4 hari 3 malam itu terlalu singkat untuk mengunjungi Paris yang cantik, maka kami memperpanjang perjalanan hingga tanggal 10 Mei 2005.

DeGromiest n the gang, di depan Sacre-Couer
Hmm ternyata, 5 hari pun sebetulnya belumlah cukup. Begitu banyak tempat-tempat indah dan menarik di kota ini. Namun 5 hari di Paris palling tidak telah membuka mata kami tentang arti penting sejarah. Pelajaran sejarah yang dulu rasanya begitu membosankan, kini tampak menarik bagi kami. Lala dan Malik pun mendapatkan banyak pelajaran berharga, yang mudah-mudahan bisa semakin memperkuat sambungan-sambungan sel-sel syaraf di otak mereka. Dan yang terpenting, kami merasa semakin diingatkan untuk selalu sadar bahwa segala kemegahan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia itu, tetaplah Allah sebagai Grand-Design dibaliknya. Seperti yang kami katakan pada Lala dan Malik saat melihat menara Eiffel “Siapa ya yang kasih ide di kepalanya Gustave Eiffel sehingga bisa membangun menara semegah ini?” Tentu saja, Allah jawabnya.

Ini lho yang dibuat sama Gustave
EiffelRombongan yang terdiri dari 12 orang dewasa dan 6 anak-anak ini berkumpul di stasiun Groningen line 3b. Kereta berangkat pukul 8.38 pagi ke arah Schippol-Amsterdam. Disana kami harus berganti kereta ke arah Brussel, baru kemudian berangkat ke Paris naik kereta Thalys–kereta TGV yang merupakan salah satu kereta api tercepat di dunia. Kami sampai di Gare du Nord, stasiun kereta api di kota Paris sekira pukul 16.00. Karena hari masih cukup sore, maka kami memutuskan untuk berjalan-jalan dulu sebelum masuk ke hotel. Kami menitipkan barang-barang di tempat penitipan barang yang sebetulnya bisa digunakan selama 2 hari. Biaya penitipan untuk tempat yang lebih besar adalah 9 Euro. Sedangkan untuk tempat yang lebih kecil dikenai tarif 7 Euro.

Hmm…naik Thalys itu…cool…
Setelah itu, kami mulai berjalan beriringan ke arah Montmartre dipandu oleh mbak Heni dan kang Wangsa dengan sesekali melihat peta. Karena ada 3 keluarga yang membawa anak, maka iring-iringan berjalan agak lambat. Apalagi dengan 4 buah kereta dorong untuk Lala, Malik, Novi dan Farhan yang terkadang harus membutuhkan tenaga ekstra ketika melewati jalan menanjak dan bergelombang.
Dari kejauhan kami melihat sebuah kubah putih menjulang yang ditangga-tangga bawahnya penuh dijejali manusia. Bangunan apakah itu? Oh, ternyata bangunan megah itu adalah gereja Sacre-Coeur. Gereja ini terletak di bukit Montmartre, dan dibangun pada tahun 1870 oleh orang-orang katolik Romawi. Namun, bangunan ini baru betul-betul selesai pembuatannya dan diresmikan pada tahun 1919 usai perang dunia I.

Ayah di depan Sacre-Couer
Ada sebuah legenda unik dari bukit Montmartre ini. Alkisah di tahun 287 M, pendeta pertama Paris yang bernama St Denis dipenggal lehernya oleh orang-orang Romawi di bukit itu. Kemudian dengan tenangnya, sang pendeta berjalan menenteng kepalanya yang telah dipenggal tadi ke bawah bukit hingga sampai ke tempat yang sekarang menjadi gereja St Denis. Bukit itu awalnya diberi nama Mons Martyrium dan kini dikenal sebagai Montmartre. Dari kisah tersebutlah kebanyakan masyarakat percaya dari mana nama bukit itu berasal.
Setelah melewati jalanan sempit dan padat, dengan toko tekstil dan souvenir disana-sini, akhirnya kami sampai juga di kaki gereja Sacre-Coeur. Ada taman bermain dan sebuah karusel disana. Anak-anak langsung antusias ingin naik karusel. Setelah itu mereka berlarian bermain papan luncur, ayunan dan beberapa mainan lain di tempat itu. O…O…, kuatkah kami menaiki tangga setinggi itu? Tampaknya pemandangan dari atas sana sangat indah sehingga kami tetap bersemangat untuk menaikinya. Setelah kami menaiki bagian tangga pertama, Malik sempat hilang sejenak sewaktu kami sedang berfoto-foto. Rupanya dia masih belum puas bermain, dan kembali turun sendiri untuk bermain. Untung saja Malik ketemu
.
Setelah terengah-engah menaiki tangga hingga tangga teratas, wow rupanya pemandangan yang tampak memang sangat memanjakan mata. Kota Paris yang bangunan-bangunannya didominasi warna krem dan putih tampak terhampar indah. Tak heran memang, karena bila kita masuk ke dalam gereja dan naik ke puncak kubah, tempat tersebut adalah tempat tertinggi kedua setelah menara Eiffel untuk melihat kota Paris dari ketinggian.

Kota Paris tampak dari atas Sacre-Couer
Kami melihat sekeliling gereja. Dinding-dinding gereja dipenuhi dengan hiasan relief, lukisan dan mosaik yang rumit. Saat memasuki ruang gereja, segala peralatan kamera, handycam dan handphone tidak boleh dinyalakan. Waktu itu sedang ada misa, kami menyaksikan megahnya ruangan di dalam gereja dan menyaksikan orang-orang yang sedang beribadah di dalamnya. Hal lain yang menarik dari gereja ini adalah menara lonceng di bagian belakang gereja. Walaupun kami tak sempat melihatnya, namun menurut buku panduan, lonceng seberat 19 ton yang ada di menara tersebut adalah lonceng terberat di seluruh dunia.
Setelah puas menikmati megahnya Sacre-Coeur, kami melanjutkan perjalanan dan mampir berfoto di depan Moulin Rouge (kincir merah) yang memang masih terletak di daerah Montmartre. Sebetulnya tempat ini menjadi terkenal karena nama buruknya. Club ini merupakan tempat bagi orang-orang berduit yang hobi menonton tarian striptease. Penari-penari Prancisnya bahkan diseleksi melalui audisi di US dan UK. Dulu, tempat yang dibangun pada tahun 1889 ini digunakan oleh artis-artis dan seniman untuk mengadakan pagelaran seni karya-karya mereka. Kemudian, pada tahun 1896, ditempat inilah seorang murid dari Paris Art School melakukan the first fully nude striptease . Penarinya ditangkap dan dipenjara, sedangkan kawan-kawan yang membelanya melakukan unjuk rasa melawan polisi saat itu, bahkan hingga memakan korban jiwa 2 orang siswanya. Hii serem ya, ternyata tempat itu tempat buruk
.

Moulin Rouge yang ternyata tempat ’seram’
Tak terasa, sudah hampir jam 8 malam rupanya. Perut pun sudah keroncongan. Kami mampir di sebuah restoran Cina yang harganya cukup terjangkau dan memilih menu yang sesuai. Setelah mendapat energi baru, kami kembali ke Gare du Nord, mengambil barang-barang, dan langsung menuju hotel Formula 1 yang terletak di Noisy Champ. Daerah ini cukup jauh dari kota Paris, terletak di zona 4, tapi sangat dekat dengan Disneyland yang akan menjadi tujuan perjalanan kami di hari ke-2.

Nyami…nyami…asyiknya makan bareng di Restaurant CinaKarena bagi kebanyakan peserta ini adalah kali pertama pergi ke Paris, maka umumnya belum berpengalaman keluar masuk stasiun metro yang harus cepat dan sigap. Belum mahirnya memasukan tiket, berikut pintu Masuk yang sempit, dan cepatnya pintu menutup membuat kereta dorong milik Lala terjepit. Wah… gimana nih, peserta sedikit heboh. Untung setelah dilipat sana-sini dan para bapak turun tangan, kereta dorong akhirnya berhasil diselamatkan. Padahal sebetulnya, ada pintu khusus untuk kereta dorong dan orang berkebutuhan khusus lewat. Maklumlah, pengalaman pertama, tapi lumayan juga sebagai hiburan, seru dan lucu
.
Akhirnya sekira pukul 21.30 malam, setelah berjalan berkeliling cukup jauh karena mengambil jalur yang berlawanan, kami sampai juga di hotel Formula 1. Ah syukurlah, tempatnya asyik juga. Dengan biaya 29 Euro permalam kami bisa tidur nyenyak dalam ruangan yang cukup nyaman. Walaupun kamar mandi diluar, tapi semua bersih, di dalam kamar pun tersedia wastafel dan TV. Tentu saja tersedia air hangat dan dingin untuk mandi. Hmm…siap-siap tidur nih untuk perjalanan besok… Lekker slapen….